RSS

IBRAHIM BAPAK TAUHID UMAT MANUSIA

11 Nov

oleh Ja’far Subhani

MENGAPA ADA PEMUJAAN KEPADA MAKHLUK

Faktor-faktor yang menimbulkan penyembahan manusia kepada ciptaan adalah ketidaktahuannya dan tuntutan alami yang mutlak dalam dirinya yang pada umumnya mempercayai adanya suatu penyebab bagi setiap fenomena.

Di satu sisi, manusia, yang dikuasai oleh kodrat alami, merasa harus mencari perlindungan di suatu tempat, pada suatu pewenang kuat yang mampu menciptakan sistem yang unik ini. Namun, di sisi lain, ketika ia bermaksud menempuh jalan ini tanpa tuntunan para nabi -pemandu Ilahi dan telah ditunjuk untuk menjamin kesempurnaan perjalanan rohani manusia- ia mencari perlindungan pada makhluk-makhluk tak-bernyawa, hewan, ataupun sesama manusia sebelum ia dapat mencapai tujuannya yang sesungguhnya, yakni Tuhan Yang Esa, dan mendapatkan jejak-jejak-Nya dengan mengamati tanda-tanda penciptaan dan mencari perlindungan pada-Nya. Oleh karena itu, ia membayangkan bahwa inilah obyek yang dicari-carinya.

Melihat ini, para ilmuwan mengakui, setelah mengkaji kitab-kitab Ilahi dan cara bagaimana dakwah disampaikan kepada manusia oleh para nabi serta argumentasi mereka, bahwa tujuan para nabi bukanlah untuk meyakinkan manusia tentang adanya pencipta alam semesta. Sesungguhnya, peran mereka yang mendasar ialah membebaskan manusia dan cengkeraman syirik (politeisme) dan penyembahan berhala. Dengan kata lain, mereka datang untuk mengatakan kepada manusia, “Hai manusia! Allah yang kita semua percaya akan keberadaan-Nya adalah ini, bukan itu. Ia esa, bukan berbilang. Jangan memberikan status Allah kepada makhluk. Terimalah Allah sebagai Yang Esa. Jangan menerima mitra atau sekutu apa pun bagi-Nya.” Kalimat “tiada Tuhan selain Allah,” membuktikan apa yang kami katakan di atas. Inilah titik mula dakwah Nabi Muhammad.

Maksud kalimat ini ialah, tak ada sesuatu yang patut disembah selain Allah, dan ini berarti bahwa adanya Pencipta telah merupakan fakta yang diakui, sehingga manusia dapat diajak untuk menerima kemaha-esaan-Nya. Kalimat ini menunjukkan bahwa di mata manusia zaman itu, bagian pertama –adanya Tuhan yang menguasai alam semesta- bukanlah hal yang perlu dipertengkarkan. Disamping itu, kajian terhadap kisah-kisah Qur’ani dan percakapan para nabi dengan umat zamannya memperjelas masalah ini.

[Catatan kaki: Tetapi, bagaimana konsepsi mereka tentang berhala? Apakah mereka memandangnya patut disembah dan hanya untuk menjadi perantara, ataukah mereka berpikir bahwa berhala-berhala itu pun mempunyai kekuasaan seperti Allah? Masalah ini berada di luar bahasan kita sekarang, walaupun pandangan pertama itu kuat dan terbukti.]

TEMPAT KELAHIRAN NABI IBRAHIM

Jawara Tauhid ini dilahirkan di lingkungan gelap penyembahan berhala dan penyembahan manusia. Manusia menundukkan kerendahan hati kepada berhala yang dibuat dengan tangannya sendiri, atau kepada bintang-bintang. Dalam situasi ini, hal yang mengangkat kedudukan Ibrahim dan menyukseskan usahanya adalah kesabaran dan ketabahannya. Tempat kelahiran pembawa panji tauhid ini adalah Babilon. Para sejarawan telah menyatakan negeri itu sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Mereka telah mencatat banyak riwayat tentang keagungan dan kehebatan peradaban wilayah itu.

Sejarawan Yunani kenamaan, Herodotus (483-425 SM), menulis, “Babilon dibangun di sebuah lapangan persegi-panjang setiap sisinya 480 km (120 league), sehingga kelilingnya 1.920 km. Pernyataan ini, betapapun dibesar-besarkan, mengungkapkan realitas yang tak terbantah-apabila dibaca bersama tulisan-tulisan lainnya. Namun, dari pemandangannya yang menarik dan istana-istananya yang tinggi, tak ada lagi yang dapat dilihat sekarang selain tumpukan lempung, di antara sungai Tigris dan Efrat, yang diliputi kebungkaman maut. Kebungkaman itu kadang-kadang dipecahkan oleh para orientalis yang melakukan penggalian untuk mendapatkan informasi tentang peradaban Babilonia. Nabi Ibrahim, pelopor tauhid, dilahirkan di masa pemerintahan Namrud putra Kan’an. Walaupun Namrud menyembah berhala, ia juga mengaku sebagai tuhan (dewa). Dengan memanfaatkan kejahilan rakyat yang mudah percaya, ia memaksakan kepercayaannya kepada mereka. Mungkin nampak agak ganjil bahwa seorang penyembah berhala mengaku pula sebagai dewa. Namun, Al-Qur’an memberikan kepada kita suatu contoh lain tentang kepercayaan ini.

Ketika Musa mengguncang kekuasaan Fir’aun dengan logikanya yang kuat dan menguak kebohongannya dalam suatu pertemuan umum, para pendukung Fir’aun berkata kepadanya, “Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?” (QS, Surah al-A’raf, 7:127). Telah termasyhur bahwa Fir’aun mengaku sebagai tuhan dan biasa menyerukan, “Aku adalah tuhanmu yang tertinggi.” Namun ayat ini menunjukkan bahwa ia juga seorang penyembah berhala. Dukungan terbesar yang diperoleh Namrud datang dari para astrolog dan penenung yang dipandang sebagai orang-orang pintar di zaman itu. Ketundukan mereka ini membuka jalan bagi Namrud untuk memanfaatkan kaum tertindas dan kalangan bodoh.

Selain itu, sebagian famili Ibrahim, misalnya Azar yang membuat berhala dan juga memahami astrologi, termasuk pengikut Namrud. Ini saja sudah merupakan halangan besar bagi Ibrahim, karena di samping harus berjuang melawan kepercayaan umum itu, ia juga harus menghadapi perlawanan kaum kerabatnya sendiri. Namrud telah menerjunkan diri ke dalam laut kepercayaan takhayul. Ia telah membentangkan permadani untuk pesta dan minum-minum ketika para astrolog membunyikan lonceng bahaya pertama seraya mengatakan, “Pemerintahan Anda akan runtuh melalui seorang putra negeri ini.” Ketakutan laten Namrud bangkit. Ia bertanya, “Apakah ia telah lahir atau belum?” Para astrolog itu menjawab bahwa ia belum lahir. Ia kemudian memerintahkan supaya diadakan pemisahan antara perempuan dan laki-laki-di malam yang, menurut ramalan para astrolog, kehamilan musuh mautnya itu akan terjadi. Walaupun demikian, para algojonya membunuh anak-anak laki-laki. Para bidan diperintahkan untuk melaporkan rincian tentang anak-anak yang baru lahir ke suatu kantor khusus. Pada malam itu juga terjadi kehamilan Ibrahim. Ibunya hamil dan, seperti ibu Musa putra ‘Imran, ia merahasiakan kehamilan itu. Setelah melahirkan, ia menyelamatkan diri ke suatu gua yang terletak di dekat kota itu, untuk melindungi nyawa anaknya tersayang. Ia meninggalkan anaknya di suatu sudut gua, dan mengunjunginya di waktu siang atau malam, tergantung situasi. Dengan berlalunya waktu, Namrud merasa aman. Ia percaya bahwa musuh tahta dan pemerintahannya telah dibunuh. Ibrahim menjalani tiga belas tahun kehidupannya dalam sebuah gua dengan lorong masuk yang sempit, sebelum ibunya membawanya keluar. Ketika muncul di tengah masyarakat, para pendukung Namrud merasa bahwa ia orang asing.

Terhadap hal itu, ibunya berkata, “Ini anak saya. Ia lahir sebelum ramalan para astrolog.” (Tafsir al-Burhan, I, h. 535). Ketika keluar dari gua, Ibrahim memperkuat keyakinan batinnya dalam tauhid dengan mengamati bumi dan langit, bintang-bintang yang bersinar, dan pohon-pohonan yang hijau. Ia menyaksikan masyarakat yang aneh. Dilihatnya sekelompok orang yang memperlakukan sinar bintang dengan sangat tolol. Ia juga melihat beberapa orang dengan tingkat kecerdasan yang bahkan lebih rendah. Mereka membuat berhala dengan tangan sendiri, kemudian menyembahnya. Yang terburuk dari semuanya ialah bahwa seorang manusia, dengan mengambil keuntungan secara tak semestinya dari kejahilan dan kebodohan rakyat, mengaku sebagai tuhan mereka dan menyatakan diri sebagai pemberi hidup kepada semua makhluk dan penakdir semua peristiwa. Nabi Ibrahim merasa harus mempersiapkan diri untuk memerangi tiga kelompok yang berbeda ini.

IBRAHIM BERJUANG MELAWAN PENYEMBAHAN BERHALA

Kegelapan penyembahan berhala telah meliputi seluruh Babilon, tempat lahir Nabi Ibrahim, Banyak tuhan dunia dan langit telah merenggut hak menalar dan berpikir dari berbagai lapisan masyarakat. Sebagiannya memandang tuhan-tuhan itu memiliki kekuasaan sendiri, sedang yang lainnya memperlakukan mereka sebagai perantara untuk memperoleh nikmat dari Tuhan Yang Mahakuasa.

RAHASIA POLITEISME

Orang Arab sebelum datangnya Islam percaya bahwa setiap makhluk dan setiap gejala tentulah mempunyai penyebab tersendiri, dan bahwa Tuhan Yang Esa tidak mampu menciptakan semuanya. Pada masa itu, ilmu pengetahuan memang belum menemukan hubungan antara makhluk dan fenomena alami serta berbagai kejadian. Sebagai akibatnya, orang-orang itu mengkhayalkan bahwa semua mahluk dan berbagai fenomena alami berdiri sendiri-sendiri dan tidak ada kaitan satu sama lain.

Karena itu, mereka menganggap bahwa untuk setiap fenomena seperti hujan dan salju, gempa bumi dan kematian, paceklik dan kesukaran, perdamaian dan ketentraman, kekejaman dan pertumpahan darah, dan sebagainya, ada tuhannya masing-masing. Mereka tak menyadari bahwa seluruh alam semesta adalah suatu kesatuan, di mana bagiannya saling terkait dan masing-masingnya mempunyai efek timbal balik. Pikiran bersahaja manusia masa itu belum mengetahui rahasia penyembahan kepada Allah Yang Esa dan tidak menyadari bahwa Allah yang menguasai alam semesta adalah Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahatahu, Pencipta yang bebas dari segala kelemahan dan cacat. Kekuasaan, kesempurnaan, pengetahuan, dan kebijaksanaanNya tiada berbatas. Ia di atas segala sesuatu yang dianggapkan kepada-Nya. Tak ada kesempurnaan yang tidak Ia miliki. Tak ada kemungkinan yang tak dapat diciptakan-Nya. Ia adalah Allah Yang Esa yang mampu menciptakan segala makhluk dan fenomena tanpa bantuan dan dukungan siapa pun. Ia dapat menciptakan makhluk lain dengan cara yang sama sebagaimana Ia menciptakan makhluk-makhluk yang ada sekarang. Karena itu, secara nalar, adanya perantaraan dari suatu wewenang yang dapat mengurangi kemandirian kehendak Allah yang tidak bersekutu, tidak dapat diterima.

Kepercayaan bahwa alam semesta mempunyai dua pencipta, yang satu merupakan sumber kebaikan dan cahaya sedang yang satu lagi merupakan sumber kejahatan dan kegelapan, juga tak dapat diterima. Kepercayaan bahwa ada perantaraan oleh seseorang, seperti Maryam dan ‘Isa, dalam hal penciptaan alam semesta, atau bahwa pengaturan tatanan dunia fisik telah dikuasakan pada seorang manusia, merupakan manifestasi syirik dan kelebih-lebihan. Penganut tauhid, dengan rasa hormat yang sewajarnya kepada para nabi dan orang suci, memelihara keyakinan pada Pencipta Alam Semesta, dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain. Metode yang digunakan para nabi untuk memberi pelajaran dan tuntutan kepada manusia ialah metode logika dan penalaran, karena mereka berurusan dengan pikiran manusia. Mereka berhasrat mendirikan pemerintahan yang didasarkan pada keimanan, pengetahuan, dan keadilan, dan pemerintahan semacam itu tak dapat didirikan melalui kekerasan, peperangan, dan pertumpahan darah. Oleh karena itu, kita harus membedakan pemerintahan para nabi dengan pemerintahan Fir’aun dan Namrud.

Tujuan dari kelompok yang kedua ini ialah amannya kekuasaan dan pemerintahan mereka dengan segala cara yang mungkin, sekalipun negara akan runtuh setelah mereka mati. Sebaliknya, orang-orang suci bermaksud mendirikan pemerintahan yang membawa maslahat pada individu maupun masyarakat, baik penguasa itu kuat atau lemah pada suatu waktu tertentu, sementara ia hidup maupun sesudah ia mati. Tujuan semacam itu tentu saja tak dapat dicapai dengan kekerasan dan tekanan. Ibrahim pertama-tama berjuang melawan kepercayaan kaum kerabatnya yang menyembah berhala, di mana Azar merupakan pentolannya. Sebelum mencapai keberhasilan penuh dalam bidang ini, ia sudah harus berjuang pada bidang operasi lainnya. Taraf pemikiran kelompok yang kedua ini agak lebih tinggi dan lebih jelas dari yang pertama. Berlawanan dengan agama para famili Ibrahim, mereka ini telah membuang makhluk-makhluk duniawi yang hina dan tak berharga, lalu memuja bintang di langit. Ketika melawan pemujaan bintang, Ibrahim menyatakan dengan kata-kata sederhana sejumlah kebenaran filosofis dan ilmiah yang belum dipahami oleh manusia di zaman itu, bahkan sekarang pun argumennya menimbulkan kekaguman para sarjana yang sangat mengenal seni logika dan perdebatan.

Di atas semua ini, Al-Qur’an juga telah mengutip argumen-argumen Ibrahim, dan kami mendapat kehormatan untuk mengutipnya dengan penjelasan singkat. Untuk dapat menuntun masyarakatnya, suatu malam Ibrahim menatap ke langit di saat terbenamnya matahari dan terus terjaga hingga ia terbenam lagi di hari berikutnya. Selama 24 jam ini ia berdebat dan berdiskusi dengan tiga kelompok, dan menyalahkan kepercayaan mereka dengan argumen-argumennya yang kuat. Kegelapan malam mendekat dan menyembunyikan segala tanda kehidupan. Bintang Venus yang cemerlang muncul dari suatu sudut cakrawala. Untuk merebut hati para pemuja Venus, Ibrahim menyesuaikan diri dengan mereka dan mengikuti garis pikiran mereka seraya mengatakan, “Itu adalah pemeliharaku.” Namun, ketika bintang itu tenggelam dan menghilang di suatu sudut, ia berkata, “Saya tak dapat menerima tuhan yang tenggelam.” Dengan penalarannya yang alami, ia menolak kepercayaan para pemuja Venus dan membuktikan kebatilannya. Pada tahap berikutnya, matanya tertuju pada bundaran bulan yang bercahaya terang dengan keindahannya yang memukau. Dengan maksud merebut hati pemuja bulan, secara lahiriah ia bersikap seakan bulan itu tuhan, tapi kemudian ia merontokkan kepercayaan itu dengan logikanya yang kuat.

Demikianlah, ketika Yang Mahakuasa membenamkan bulan itu di balik cakrawala, dan cahaya serta keindahannya lenyap dari muka bumi, maka tanpa menyinggung perasaan para pemuja bulan itu, Ibrahim berkata, “Apabila Tuhanku yang sesungguhnya tidak membimbing aku, tentulah aku tersesat, karena tuhan ini terbenam seperti bintang dan tunduk pada suatu tatanan dan sistem yang pasti yang dibentuk oleh sesuatu yang lain.” Kegelapan malam berakhir dan matahari pun muncul, membuka cakrawala, dan menyebarkan sinar keemasannya ke muka bumi. Para pemuja matahari memalingkan wajah mereka kepada tuhannya. Untuk menaati aturan perdebatan, Ibrahim juga bersikap seolah mengakui ketuhanan matahari. Namun, terbenamnya matahari mengukuhkan bahwa ia tunduk pada suatu sistem alam semesta yang umum, dan Ibrahim secara terbuka menolaknya sebagai yang patut disembah.(lihat QS,al-An’am, 6:75-79) Tak diragukan bahwa saat tinggal di gua, melalui anugerah Ilahi yang luar biasa, Ibrahim mendapatkan dari sumber yang gaib pengetahuan batin tentang tauhid, yang merupakan kekhususan para nabi. Namun, setelah memperhatikan dan mengkaji benda-benda langit, ia juga memberikan bentuk argumentasi pada pengetahuan itu. Dengan demikian, di samping menunjukkan jalan yang benar kepada manusia dan memberikan kepada mereka sarana bimbingan, Ibrahim telah meninggalkan pengetahuan yang tak ternilai untuk digunakan oleh orang-orang yang mencan kebenaran dan realitas.

PENJELASAN LOGIKA IBRAHIM

Ibrahim sangat menyadari bahwa Allah menguasai alam semesta, tetapi pertanyaannya adalah: Apakah sumber kekuatan itu terdiri dari benda-benda langit ini, atau suatu Wujud Yang Mahakuasa, yang lebih tinggi daripadanya? Setelah mengkaji kondisi-kondisi benda yang berubah-ubah ini, Ibrahim mendapatkan bahwa wujud-wujud yang cerah dan bersinar itu sendiri tunduk pada ketetapan -terbit, terbenam, dan lenyap- menurut sistem tertentu dan berotasi pada suatu jalan yang tak berubah-ubah. Ini membuktikan bahwa mereka tunduk pada kehendak dari sesuatu yang lain; suatu kekuatan yang lebih besar dan lebih kuat mengontrol mereka dan membuat mereka berotasi pada orbit yang telah ditentukan. Marilah kita bahas masalah ini lebih lanjut. Alam semesta sepenuhnya memiliki “peluang-peluang” dan “kebutuhan-kebutuhan.”

Berbagai makhluk dan fenomena alami tak pernah lepas dari Yang Mahakuasa. Mereka membutuhkan Tuhan Yang Mahatahu dalam setiap detik, siang dan malam – Tuhan yang tidak pernah lalai akan kebutuhan mereka. Benda-benda langit itu hadir dan diperlukan pada suatu saat dan tak hadir serta tak berguna pada saat lainnya. Wujud seperti itu tidak mempunyai kemampuan yang diperlukan untuk menjadi tuhan dan wujud lainnya, untuk memenuhi kebutuhan dan keperluan mereka Teori ini dapat diperluas dalam bentuk berbagai pernyataan teoritis dan filosofis. Misalnya, kita mungkin mengatakan: Benda-benda langit ini bergerak dan berputar pada sumbunya masing-masing. Apabila gerakannya itu tanpa pilihan dan atas paksaan semata-mata, tentulah ada tangan yang lebih kuat yang mengendalikannya. Apabila gerakannya sesuai dengan kehendaknya sendiri, haruslah dilihat apakah tujuan dari gerakan itu. Apabila mereka bergerak untuk mencapai kesempurnaan, seperti benih yang bangkit dari bumi untuk tumbuh menjadi pohon dan berbuah, maka itu berarti mereka memerlukan suatu wujud yang independen, kuasa, dan bijaksana yang akan menyingkirkan kekurangan-kekurangan mereka dan menganugerahkan kepada mereka sifat kesempurnaan. Apabila gerakan dan rotasi mereka menuju kepada kelemahan dan kekurangan, dan halnya seperti orang yang melewati usia puncaknya dan memasuki sisi usia yang salah, maka itu berarti gerakannya cenderung kepada kemunduran dan kehancuran, dan dengan demikian tidak sesuai dengan posisi sebagai tuhan yang akan menguasai dunia dan segala isinya.

METODE DISKUSI DAN DEBAT PARA NABI

Sejarah para nabi menunjukkan bahwa mereka memulai program reformasi dengan mengundang para anggota keluarga mereka kepada jalan yang benar, kemudian mereka memperluas dakwah itu kepada orang lain. Ini pulalah yang dilakukan Nabi Muhammad segera setelah beliau ditunjuk sebagai nabi. Pertama-tama beliau mengajak kaumnya sendiri kepada Islam, dan meletakkan fundasi dakwahnya pada reformasi mereka, sesuai dengan perintah Allah, “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS, asy-Syu’ara’, 26:2l3) Ibrahim juga mengambil metode yang sama. Mula-mula beliau berusaha mereformasi kaum kerabatnya. Azar menduduki posisi yang sangat tinggi di kalangan familinya, karena, selain terpelajar dan seorang seniman, ia juga ahli astrologi. Di istana Namrud, kata-katanya sangat berpengaruh, dan kesimpulan – kesimpulan astrologinya diterima semua penghuni istana. Ibrahim sadar bahwa apabila ia herhasil meraih Azar ke pihaknya maka ia akan merebut benteng terkuat dari para penyembah berhala. Oleh karena itu, ia menasihatinya dengan cara sebaik mungkin supaya tidak mcnyembah benda-benda mati. Tetapi, karena beberapa alasan, Azar tidak menerima ajakan dan nasihat Ibrahim.

Namun, sejauh berhubungan dengan kita, hal terpenting dalam episode ini ialah metode dakwah dan bentuk percakapan Ibrahim dengan Azar. Lewat kajian mendalam dan cermat terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang merekam percakapan ini, metode argumen dan dakwah yang ditempuh para nabi itu menjadi amat sangat jelas. Marilah kita lihat bagaimana Ibrahim mengajak Azar kepada jalan yang benar: “Ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, ‘Wahai ayahku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar; tidak melihat, dan tidak menolong kamu sedikitpun. Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dan Tuhan Yang Maha Pemurah, sehingga jadilah kamu kawan syaitan.'” (QS, Maryam, 19:42-45) Sebagai jawaban atas ajakan Ibrahim, Azar berkata, “Beranikah engkau menyangkal tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Bertobatlah dari ketololan itu! Kalau tidak, engkau akan dirajam sampai mati. Keluarlah segera dari rumahku!” Ibrahim yang murah hati menerima kata-kata kasar Azar ini dengan ketenangan sempurna seraya menjawab, “Salam atasmu. Aku akan memohon kepada Tuhanku untuk mengampunimu.” Adakah jawaban yang lebih pantas dan ucapan yang lebih patut daripada kata-kata Ibrahim ini?

APAKAH AZAR AYAH IBRAHIM?

Ayat-ayat yang dikutip di atas, maupun ayat (15) surah at-Taubah dan (14) surah al-Mumtahanah, seakan memberi kesan hubungan Azar dengan Ibrahim sebagai ayah dan anak. Namun, perlu diinformasikan di sini bahwa dari perspektif Syi’ah, penyembah berhala Azar sebagai ayah Ibrahim tidaklah sesuai dengan konsensus para ulama mereka yang percaya bahwa nenek moyang Nabi Muhammad maupun semua nabi lainnya adalah orang-orang takwa yang beriman tauhid. Ulama besar Syi’ah, Syekh Mufid, memandang anggapan ini sebagai salah satu pendapat yang disepakati seluruh ulama Syi’ah dan sejumlah besar ulama Sunni (lihat Awa’il al-Malaqat, hal. 12).

Oleh karena itu, timbul pertanyaan: Apakah sesungguhnya maksud ayat-ayat yang nampak jelas itu, dan bagaimana masalah ini harus dipecahkan? Banyak mufasir Al-Qur’an menegaskan bahwa walaupun kata ab dalam bahasa Arab biasanya digunakan dalam arti “ayah,” kadang-kadang kata itu juga digunakan dalam leksikon Arab dan terminologi Al-Qur’an dalam arti “paman.” Dalam ayat berikut, misalnya, kata ab berarti “paman” “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan [tanda-tanda] maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan ab-Smu, [yakni] Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, [yaitu] Tuhan Yang Maha Esa, dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (QS, al-Baqarah, 2:133) Tiada keraguan bahwa Isma’il adalah paman Ya’qub, bukan ayahnya, karena Ya’qub adalah putra Ishaq yang saudara Isma’il. Walaupun demikian, putra-putra Ya’qub memanggilnya “ayah Ya’qub” yakni ab Ya’qub. Karena kata ini mengandung dua makna, maka pada ayat-ayat yang berhubungan dengan diajaknya Azar ke jalan yang benar oleh Ibrahim, boleh jadi yang dimaksud dengannya adalah “paman.” Dan boleh jadi pula Ibrahim memanggilnya “ayah,” karena ia telah bertindak sebagai wali baginya dalam waktu yang panjang, dan Ibrahim memandangnya sebagai ayahnya.

AZAR DALAM AL-QUR’AN

Dengan maksud untuk mendapatkan keputusan Al-Qur’an tentang hubungan Ibrahim dengan Azar, kami merasa perlu mengundang perhatian pembaca pada keterangan dua ayat: 1. Sebagai akibat usaha keras Nabi, Arabia disinari cahaya Islam. Kebanyakan rakyat memeluk agama ini dengan sepenuh hati, dan menyadari bahwa syirik dan pemujaan berhala akan berakhir di neraka. Walaupun mereka bahagia karena telah memasuki agama yang benar, mereka merasa sedih mengingat nenek moyang mereka yang penyembah berhala. Mendengar ayat-ayat yang menggambarkan nasib kaum musyrik di Hari Pengadilan, terasa berat bagi mereka. Untuk menjauhkan siksaan mental ini, mereka memohon kepada Nabi untuk berdoa kepada Allah bagi keampunan nenek moyang mereka yang telah mati sebagai orang kafir, sama sebagaimana Ibrahim berdoa bagi Azar.

Namun, ayat berikut diwahyukan sebagai jawaban atas permohonan mereka: “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang beriman memintakan ampun kepada Allah bagi orang musyrik, walaupun orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam. Permintaan ampun dari Ibrahim kepada Allah untuk ayahnya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada ayahnya itu. Tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa ayahnya itu adalah musuh Allah, Ibrahim pun berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya bagi penyantun.” (QS, at-Taubah, 9:113-114) Akan nampak lebih masuk akal apabila percakapan Ibrahim dengan Azar, dan janjinya kepada Azar untuk mendoakan bagi keampunannya, yang berakhir dengan putusnya hubungan serta perpisahan mereka, terjadi ketika Ibrahim masih muda, yakni ketika ia masih tinggal di Babilon dan belum berniat ke Palestina, Mesir, dan Hijaz. Setelah mengkaji ayat ini, dapat disimpulkan bahwa Azar bersikeras pada kekafiran dan penyembahan berhalanya, dan Ibrahim, yang masih muda, memutuskan hubungannya dengan Azar dan tak pernah memikirkannya lagi sesudah itu.

Di bagian terakhir masa hidupnya, yakni ketika ia telah lanjut usia, setelah melaksanakan sebagian besar tugasnya (yakni pembangunan Ka’bah) dan membawa istri dan anaknya ke gurun kering Mekah, ia berdoa dari lubuk hatinya bagi sejumlah orang, termasuk kedua orang tuanya, dan memohon agar doanya dikabulkan Allah. Pada waktu itu beliau berdoa, “Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (QS, Ibrahim 14:41) Ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa doa itu diucapkan setelah selesainya pembangunan Ka’bah, ketika Ibrahim sudah berada di usia tuanya. Apabila sang ayah dalam ayat ini, yang kepadanya telah ia persembahkan cinta dan bakti dan yang didoakannya, adalah Azar itu, maka ini akan berarti bahwa Ibrahim tidak berlepas diri darinya sepanjang hidupnya, dan terkadang beliau juga berdoa untuknya. Padahal, ayat pertama, yang diwahyukan sebagai jawaban atas permohonan para keturunan musyrikin itu, menjelaskan bahwa setelah suatu waktu, ketika ia masih muda, Ibrahim telah memutuskan segala hubungan dengan Azar dan menjauh darinya – berlepas diri berarti tidak lagi saling berbicara, tidak peduli, dan tidak saling mendoakan keselamatan.

Ketika dua ayat ini dibaca bersama-sama, terlihat jelas bahwa orang yang dibenci Ibrahim di usia mudanya, yang dengannya ia memutuskan segala hubungan kepentingan dan cinta, bukanlah orang yang diingatnya hingga usia tuanya, yang untuk keampunan dan keselamatannya ia berdoa (lihat Majma’ al-Bayan, III, hal. 319; al-Mizan, VII, 170). IBRAHIM, SI PENGHANCUR BERHALA Saat perayaan mendekat, penduduk Babilon berangkat ke hutan untuk melepaskan lelah, memulihkan tenaga mereka, dan melaksanakan upacara perayaan itu. Kota menjadi sepi. Perbuatan Ibrahim, celaan dan kecamannya, telah mencemaskan mereka. Karena itu, mereka mendesak Ibrahim untuk pergi bersama mereka dan ikut serta dalam upacara perayaan. Namun, usul dan desakan mereka datang Bertepatan dengan sakitnya Ibrahim.

Karena itu, sebagai jawabannya, Ibrahim mengatakan sedang sakit dan tak akan menyertai upacara perayaan itu. Sesungguhnya, itulah hari gembira bagi sang tokoh tauhid, sebagaimana bagi para musyrik itu. Bagi kaum musyrik, itu adalah pesta perayaan yang sangat tua. Mereka pergi ke kaki gunung di lapangan-lapangan hijau untuk melaksanakan upacara perayaan dan menghidupkan adat kebiasaan nenek moyang mereka. Bagi si jawara tauhid, hari itu pun merupakan hari raya besar pertama yang telah lama dirindukannya, untuk menghancurkan manifestasi kekafiran dan kemusyrikan, ketika kota sedang bersih dan lawan-lawannya. Ketika “keloter” terakhir penduduk meninggalkan kota, Ibrahim merasa bahwa saat itulah kesempatannya. Dengan hati penuh keyakinan dan iman kepada Allah, beliau memasuki rumah berhala. Di dalamnya beliau menemukan penggalan-penggalan kayu berpahat, berhala-berhala yang tak bernyawa. Ia ingat akan banyaknya makanan yang biasa dibawa oleh para penyembah berhala ke kuil mereka sebagai sajian untuk beroleh rahmat. Beliau lalu mengambil sepiring roti yang ada di situ. Sambil mengunjukkannya kepada berhala-berhala itu, beliau berkata mengejek, “Mengapa tidak kamu makan segala macam makanan ini?” Tentulah tuhan buatan kaum musyrik itu tak mampu bergerak sedikit pun, apalagi memakan sesuatu. Keheningan membisu menguasai kuil berhala yang luas itu, yang hanya terpecah oleh pukulan-pukulan keras Ibrahim pada tangan, kaki, dan tubuh berhala-berhala itu. Ia menghancurkan semua berhala itu, hingga menjadi tumpukan puing kayu dan logam yang berhamburan di tengah kuil itu.

Tetapi, ia membiarkan berhala yang paling besar, lalu meletakkan kapak di bahunya. Ini dilakukannya dengan sengaja. Ia tahu bahwa ketika kembali dari hutan, kaum musyrik akan memahami kedudukan sesungguhnya dan akan memandang situasi yang nampak itu sebagai sengaja dibuat-buat, karena tak akan mungkin mereka percaya bahwa penghancuran berhala-berhala lain itu telah dilakukan oleh berhala besar yang sama sekali tak berdaya untuk bergerak atau melakukan sesuatu. Pada saat itu, beliau pun akan menggunakan situasi itu untuk dakwah. Mereka sendiri akan mengaku bahwa berhala itu sama sekali tidak mempunyai kekuatan. Maka bagaimana mungkin ia akan menjadi penguasa dunia? Matahari bergerak turun di cakrawala. Orang mulai pulang berkelompok-kelompok ke kota. Waktu untuk melaksanakan upacara pemujaan berhala pun tiba, dan sekelompok penyembah berhala memasuki kuil.

Pemandangan yang tak terduga, yang dengan jelas menunjukkan nistanya dan rendahnya tuhan-tuhan mereka, menghentakkan mereka semua. Hening seperti maut meliputi kuil itu. Setiap orang gelisah. Tetapi, salah seorang di antara mereka memecahkan kesunyian dengan berkata, “Siapa yang telah melakukan kejahatan ini?” Kutukan terhadap berhala oleh Ibrahim di waktu lalu, dan kecamannya yang terang-terangan terhadap pemujaan berhala, meyakinkan mereka bahwa hanya dialah yang mungkin melakukan semua itu. Sidang pengadilan pun diadakan di bawah pengawasan Namrud, dan si remaja Ibrahim serta ibunya dibawa ke pengadilan. Si ibu dituduh menyembunyikan kelahiran anaknya dan tidak melaporkannya ke kantor khusus pemerintahan untuk dibunuh. Ia memberikan jawaban atas tuduhan itu, “Saya menyimpulkan bahwa sebagai akibat keputusan terakhir pemerintah waktu itu -yakni pembunuhan anak-anak- manusia di negara ini sedang dimusnahkan. Saya tidak memberitahukan kepada kantor pemerintah tentang putra saya, karena saya hendak melihat bagaimana ia maju di masa depan. Apabila ia membuktikan diri sebagai orang yang telah diramalkan para pendeta peramal itu, akan ada alasan bagi saya untuk melaporkannya kepada polisi agar mereka tidak lagi menumpahkan darah anak-anak lain. Dan apabila ia ternyata bukan orang itu, maka saya telah menyelamatkan seorang muda di negara ini dari pembunuhan.” Argumen ibu itu sangat memuaskan para hakim.

Sekarang Ibrahim diperiksa. “Keadaan menunjukkan bahwa berhala besar telah melakukan semua pukulan itu. Dan apabila berhala itu dapat berkata, sebaiknya Anda tanyakan kepadanya.” Jawaban bernada ejekan dan penghinaan ini dimaksudkan untuk mencapai sasaran lain. Ibrahim yakin bahwa orang-orang itu akan berkata, “Ibrahim! Engkau tahu sepenuhnya bahwa berhala-berhala itu tak dapat berbicara. Mereka pun tidak mempunyai kehendak atau akal.” Dalam hal itu, Ibrahim dapat meminta perhatian sidang pengadilan tentang satu hal yang mendasar. Kebetulan, apa yang terjadi sama dengan yang diharapkannya. Sehubungan dengan pernyataan orang-orang itu yang membuktikan kelemahan, kehinaan, dan tidak berdayanya berhala-berhala itu, Ibrahim berkata, “Apabila mereka memang demikian, mengapa kamu menyembah dan berdoa kepada mereka untuk mengabulkan permohonan kamu?” Kejahilan, keras kepala, dan peniruan membuta menguasai hati dan pikiran para hakim.

Terhadap jawaban Ibrahim yang tak terbantah itu, mereka tidak beroleh pilihan lain kecuali memberikan keputusan yang sesuai dengan keinginan pemerintah masa itu. Ibrahim harus dibakar hidup-hidup. Setumpukan besar kayu bakar dinyalakan, dan jawara tauhid itu dilemparkan ke dalam api yang berkobar. Namun, Allah Yang Mahkuasa mengulurkan tangan kasih dan rahmat-Nya kepada Ibrahim dan menjadikanNya kebal. Allah mengubah neraka buatan manusia itu menjadi taman hijau yang sejuk. PELAJARAN DARI RIWAYAT IBRAHIM Walaupun orang Yahudi mengaku sebagai pelopor kafilah penganut tauhid, riwayat ini tak masyhur di kalangan mereka dan tidak beroleh tempat dalam Taurat yang ada sekarang. Di antara kitab-kitab Ilahi, hanya Al-Qur’an yang telah meriwayatkannya.

Oleh karena itu, kami sebutkan di bawah ini beberapa pokok yang mengandung pelajaran bagi manusia, suatu hal yang memang merupakan tujuan pokok Al-Qur’an ketika meriwayatkan sejarah berbagai nabi. 1. Riwayat ini merupakan bukti yang jelas tentang keberanian dan keperkasaan yang luar biasa dari kekasih Allah (Ibrahim) ini. Tekadnya untuk menghancurkan manifestasi dan sarana kemusyrikan tak dapat disembunyikan dari rakyat Namrud. Dengan celaan dan kecamannya, beliau telah menyatakan perlawanan dan kebenciannya yang luar biasa terhadap penyembahan berhala secara sangat nyata. Beliau mengatakan secara terbuka dan jelas, “Apabila kamu tidak berhenti dari praktek yang memalukan itu, aku akan membuat keputusan tentang mereka.” Dan pada hari kepergian orang-orang ke hutan, beliau berkata secara terang-terangan, “Demi Tuhan, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.” (QS, al-Anbiya’, 21:57)

‘Allamah Majlisi mengutip dari Imam Ja’far ash-Shadiq, “Gerakan dan perjuangan satu orang melawan ribuan orang musyrik merupakan bukti nyata akan keberanian dan kesabaran Ibrahim, yang tidak mengkhawatirkan jiwanya dalam mengangkat asma Allah dan memperkuat dasar penyembahan kepada Tuhan yang Esa.”(lihat Bihar al-Anwar, V, hal. 130). 2. Sepintas nampak seakan penghancuran berhala oleh Ibrahim merupakan pemberontakan bersenjata dan permusuhan, tetapi dari percakapannya dengan para hakim, terbukti bahwa gerakan ini sebenarnya mempunyai aspek dakwah. Karena, beliau memandang bahwa sebagai sarana terakhir untuk membangunkan kebijaksanaan dan kesadaran hati nurani manusia, beliau harus menghancurkan berhala-berhala itu, kecuali berhala yang besar, dan meletakkan kapak di bahunya, supaya mereka dapat mengadakan penyelidikan lebih jauh tentang sebab-sebab insiden itu. Dan, sebagai ternyata pada akhirnya, mereka hanya akan menganggap pandangan itu sebagai ejekan, dan sama sekali tak akan percaya kalau penghancuran itu dilakukan oleh berhala besar itu.

Dengan demikian, beliau dapat menggunakan hal itu untuk mendakwahkan pendapatnya dengan mengatakan, “Menurut pengakuan kalian sendiri, berhala besar itu tidak mempunyai kekuasaan sedikit pun, lalu mengapa kalian menyembahnya?” Ini menunjukkan bahwa sejak awal mula, para nabi hanya menggunakan logika dan argumen sebagai senjata mereka yang ampuh, dan itu senantiasa membawa hasil. Kalau tidak, maka apa artinya penghancuran berhala ketimbang bahaya bagi nyawa Ibrahim? Tindakan ini tentulah mengandung makna besar bagi misinya, dari sisi pandang alasan penalaran, sehingga beliau sedia mengorbankan nyawanya untuk itu. 3. Ibrahim sadar bahwa sebagai akibat tindakannya, hidupnya akan berakhir. Karenanya, menurut anggapan umum, ia mestinya akan terguncang, menyembunyikan diri, atau sekurang-kurangnya berjanji akan berhenti membuat “lelucon.” Tetapi, ia sepenuhnya menguasai semangat dan emosinya. Misalnya, ketika memasuki kuil berhala, ia mendekati setiap berhala dan menawarkan mereka makan, secara olok-olok. Setelah ternyata sia-sia, beliau menjadikan isi kuil berhala itu onggokan penggalan kayu, dan menganggap semua itu sebagai sesuatu yang benar-benar biasa saja, seakan-akan hal itu tidak akan disusul oleh kematiannya sendiri. Ketika muncul di pengadilan, beliau menjawab pertanyaan mereka, “Sesungguhnya seseorang telah melakukannya. Pemimpinnya ialah yang ini. Karena itu, tanyakanlah kepadanya jika ia dapat berbicara.” Lelucon demikian di hadapan pengadilan hanya dapat muncul dari seseorang yang siap sedia menghadapi segala kesudahan tanpa rasa takut atau ngeri dalam hatinya.

Bahkan, yang lebih menakjubkan lagi ialah sikap Ibrahim pada saat ia ditempatkan pada pelontar, dan mengetahui dengan pasti bahwa ia segera akan berada di tengah api -yang kayu bakarnya tadinya dikumpulkan orang Babilon untuk melaksanakan upacara suci keagamaan, dan yang nyalanya membubung dengan dahsyat sehingga bahkan burung rajawali tak berani terbang di atasnya. Pada saat itu, Malaikat Jibril turun dan langit seraya menyatakan kesediaannya untuk memberikan segala pertolongan kepada Ibrahim. Jibril berkata, “Apa keinginanmu?” Ibrahim menjawab, “Aku mempunyai hasrat. Tetapi aku tak dapat memberitahukannya kecuali kepada Tuhanku.” (lihat Al-‘Uyun, hal. 136; al-Amali, oleh Shaduq, hal. 274; Bihar al-Anwar, hal. 35). Jawaban ini jelas menunjukkan keluhuran dan kebesaran rohani Ibrahim. Namrud menanti dengan cemas dan gelisah karena dendam kesumatnya kepada Ibrahim. Ia begitu ingin melihat bagaimana api menelannya. Pelontar disiapkan.

Dengan satu sentakan, tubuh Ibrahim, si jawara tauhid Ilahi, terlempar ke api. Namun, kehendak Tuhan Ibrahim mengubah neraka buatan itu menjadi taman dengan cara yang amat mengejutkan mereka, sehingga Namrud tanpa sengaja berpaling kepada Azar dan berkata, “Tuhan Ibrahim mencintainya.” (Tafsir al-Burhan, III, hal. 64). Walaupun adanya kejadian itu, Ibrahim tak dapat mendakwahkan agamanya dengan kebebasan penuh. Akhirnya, pemerintah waktu itu memutuskan, setelah bermusyawarah, untuk membuang Ibrahim. Ini membuka suatu bab baru dalam kehidupan Ibrahim dan menjadi awal perjalanannya ke Suriah, Palestina, Mesir, dan Hijaz. BAB BARU DALAM KEHIDUPAN IBRAHIM Pengadilan di Babilonia memutuskan membuang Ibrahim dari negeri itu. Beliau pun meninggalkan tempat kelahirannya, lalu pergi ke Mesir dan Palestina. Amaliqa, yang menguasai wilayah-wilayah itu, menyambutnya dengan hangat dan memberikan kepadanya banyak hadiah, satu di antaranya adalah seorang budak perempuan bernama Hajar. Istri Ibrahim, Sarah, belum melahirkan anak hingga saat itu. Oleh karena itu, ia menyarankan Ibrahim supaya kawin dengan Hajar, dengan harapan kiranya beliau diberkati seorang putra, yang akan menjadi sumber kebahagiaan dan kesenangan mereka. Perkawinan dilangsungkan, dan Hajar kemudian melahirkan seorangputra yang diberi nama Ismai’l. Itu terjadi jauh sebelum Sarah hamil dan melahirkan seorang putra yang diberi nama Ishaq. (Lihat Sa’d as-Su’ud, hal. 41-42;Bihar al-Anwar, hal. 118). Setelah beberapa waktu, sebagaimana diperintahkan Allah, Ibrahim membawa Isma’il dan ibunya, Hajar ke selatan (Mekah), dan menempatkan mereka di suatu lembah yang tak dikenal. Lembah ini tak berpenghuni, dan hanya kafilah dari Sunah ke Yaman dan sebaliknya yang memasang tenda di sana. Bila tidak ada kafilah, tempat ini benar-benar sepi dan hanya merupakan hamparan pasir membakar sebagaimana bagian-bagian tanah Arab lainnya. Tinggal di tempat yang mengerikan itu sungguh sulit bagi seorang perempuan yang telah melewatkan hari-harinya di negeri Amaliqa. Terik gurun yang membakar dan anginnya yang amat sangat panas memberikan bayangan kematian di hadapan mata. Ibrahim sendiri sangat prihatin atas kenyataan ini. Sementara memegang kendali hewan tunggangannya dengan maksud mengucapkan selamat tinggal kepada istri dan anaknya, air matanya mengalir, dan ia berkata kepada Hajar, “Wahai.Hajar! Semua ini dilakukan menurut perintah Yang Mahakuasa, dan perintah-Nya tak dapat dilawan. Bersandarlah pada rahmat Allah, dan yakinlah bahwa Ia tak akan menistakan kamu.” Kemudian Ibrahim berdoa kepada Allah dengan penuh khusyuk, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dan buah-buahan kepada penduduknya yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian.” (QS, al-Baqarah, 2:126).

Ketika sedang menuruni bukit, Ibrahim menengok ke belakang dan berdoa kepada Allah untuk mencurahkan rahmat-Nya kepada mereka. Walaupun perjalanan tersebut tampak sangat sulit dan susah, di kemudian hari terbukti bahwa hal itu mengandung makna yang amat penting. Di antaranya adalah pembangunan Ka’bah yang memberikan dasar yang agung bagi para penganut tauhid untuk mengibarkan panji penyembahan kepada Allah Yang Esa di Arabia, dan merupakan fundasi gerakan keagamaan yang besar, yang akan mendapat bentuk di kemudian hari, yaitu gerakan besar yang beroperasi di negeri ini melalui pengunci segala nabi.

BAGAIMANA TERJADINYA SUMBER AIR ZAM-ZAM

Ibrahim mengambil kendali hewan tunggangannya. Dengan air mata, ia memohon diri kepada tanah Mekah, Hajar, dan putranya. Tetapi, tak berapa lama kemudian, makanan dan minuman yang dapat diperoleh si anak dan ibunya habis, dan air susu Hajar pun kering. Kondisi putranya mulai merosot. Air mata mengucur dari ibu yang terasing itu dan membasahi pangkuannya. Dalam keadaan amat bingung, ia bangkit berdiri lalu pergi ke bukit Shafa. Dari sana ia melihat suatu bayangan dekat bukit Marwah. Ia pun lari ke sana. Namun, pemandangan palsu itu sangat mengecewakannya. Tangisan dan keresahan putranya tercinta menyebabkan ia lari lebih keras ke sana ke mari.

Demikianlah, ia berlari tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwah untuk mencari air, tetapi pada akhirnya ia kehilangan semua harapan, lalu kembali kepada putranya. Si anak tentulah telah hampir sampai pada nafasnya yang terakhir. Kemampuannya meratap atau menangis sudah tiada. Namun, justru pada saat itu doa Ibrahim terkabul. Ibu yang letih lesu itu melihat bahwa air jernih telah mulai keluar dari bawah kaki Isma’il. Sang ibu, yang sedang menatap putranya dan mengira ia akan mati beberapa saat lagi, merasa sangat gembira melihat air itu. Ibu dan anak itu minum sampai puas, dan kabut putus asa vang telah merentangkan bayangannya pada kehidupan mereka pun terusir oleh angin rahmat Ilahi.(lihat Tafsir al-Qummi, hal. 52; Bihar al-Anwar,II, hal. 100).

Munculnya sumber air ini, yang dinamakan Zamzam, sejak hari itu, membuat burung-burung air terbang di atasnya, membentangkan sayapnya yang lebar sebagai penaung kepala ibu dan anak yang telah menderita itu. Orang-orang dari suku Jarham, yang tinggal jauh dari lembah ini, melihat burung-burung yang beterbangan ke sana ke mari itu. Mereka lalu menyimpulkan bahwa telah ada air di sekitarnya. Mereka mengutus dua orang untuk mengetahui keadaan itu. Setelah lama berkeliling, kedua orang itu sampai ke pusat rahmat Ilahi itu. Ketika mendekat, mereka melihat seorang wanita dan seorang anak sedang duduk di tepi suatu genangan air. Mereka segera kembali dan melaporkan hal itu kepada para pemimpin sukunya. Para anggota suku itu segera memasang kemah mereka di sekitar sumber air yang diberkati itu, dan Hajar pun terlepas dari kesulitan dan pahitnya kesepian yang dideritanya. Isma’il tumbuh sampai dewasa sebagai pemuda yang ramah. Ia pun mengadakan ikatan perkawinan dengan wanita suku Jarham. Dengan demikian, ia beroleh dukungan dan menjadi anggota masyarakat mereka. Oleh karena itu, dari sisi ibu, keturunan Isma’il berfamili dengan suku Jarham.

MEREKA BERTEMU KEMBALI

Setelah meninggalkan putranya yang tercinta di tanah Mekah atas perintah Allah Yang Mahakuasa, kadang-kadang Ibrahim berpikir untuk pergi melihat putranya. Pada salah satu perjalanannya, ia sampai di Mekah dan mendapatkan bahwa putranya tidak ada di rumah. Waktu itu, Isma’il telah tumbuh menjadi lelaki dewasa dan telah kawin dengan seorang gadis suku Jarham. Ibrahim bertanya kepada istri Ismai’l, “Di mana suamimu?” Perempuan itu menjawab, “Ia telah keluar untuk berburu!” Kemudian Ibrahim bertanya kepadanya apakah ia mempunyai makanan. Ia menjawab tak ada. Ibrahim sangat sedih melihat kekasaran istri putranya. Ia lalu berkata kepada menantunya itu, “Bila Isma’il pulang, sampaikan kepadanya salam saya, dan katakan pula kepadanya untuk mengganti ambang pintu rumahnya.” Kemudian Ibrahim pergi. Ketika kembali, Isma’il mencium bau ayahnya. Dari keterangan istrinya, ia menyadari bahwa orang yang telah mengunjungi rumahnya adalah memang ayahnya. Ia juga mengerti bahwa pesan yang ditinggalkan ayahnya berati bahwa beliau (Ibrahim) menghendakinya menceraikan istrinya sekarang dan menggantikannya dengan yang lain, karena beliau memandang istrinya yang sekarang tidak pantas menjadi kawan hidupnya.(lihat Bihar al-Anwar, hal. 112, sebagaimana dikutip dari Qishash al-Anbiya’))

Mungkin dapat dipertanyakan mengapa setelah melakukan perjalanan sejauh itu, Ibrahim tidak menunggu sampai putranya pulang dari berburu, tapi langsung pergi lagi tanpa melihatnya. Para sejarawan menerangkan bahwa Ibrahim pulang dengan tergesa-gesa karena telah berjanji kepada Sarah bahwa beliau tak akan tinggal lama di sana. Setelah perjalanan ini, ia juga diperintahkan Allah Yang Mahakuasa untuk melaksanakan suatu perjalanan lagi ke Mekah, untuk mendirikan Ka’bah guna menarik hati orang yang beriman tauhid Al-Qur’an menyatakan bahwa menjelang hari-hari terakhir Ibrahim, Mekah telah tumbuh menjadi sebuah kota, karena, setelah menyelesaikan tugasnya, ia berdoa kepada Allah, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala.” (QS Ibrahim, 14:35). Dan ketika tiba di gurun Mekah, ia berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa.” (QS al-Baqarah, 2:126).

——————————– oleh Ja’far Subhani, hal. 50 – 69 Judul buku: AR-RISALAH Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11/11/2011 in Filsafat, Islam

 

Tag: , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 6 pengikut lainnya

  •  
    %d blogger menyukai ini: