RSS

Tanya Jawab Seputar Belajar & Pembelajaran

09 Nov

Tanya Jawab Seputar Belajar & Pembelajaran (tugas mata kuliah belajar & pembelajaran)

1. Buat rumusan pengertian berikut ini dengan menggunakan kalimat sendiri! a. Belajar b. Pembelajaran c. Mendidik d. Membimbing

Jawaban

a. Belajar bisa diartikan sebagai usaha sadar untuk melakukan sebuah perubahan prilaku, dari yang buruk menjadi lebih baik (etis/afektif), dari yang tidak tahu menjadi tahu (kognitif dan psikomotorik), dan dari jelek menuju yang lebih bagus/indah (estetika). Belajar mesti melibatkan rasio (akal), empiris (panca indera), intuisi (Qalbu/hati), dan petunjuk wahyu dari Sang Pemilik ilmu. Bagi saya, belajar adalah suatu kegiatan tanpa henti. Dalam perspektif agama, belajar adalah sebuah keharusan setiap individu dan tak ada dikotomi dan diskriminasi dalam prosesnya. Alam semesta adalah ruang yang bisa dijadikan sekolah, dan setiap manusia adalah guru. Bahkan kita dituntut untuk menuntut ilmu (belajar) sampai sejauh-jauhnya dan hingga akhir hayat. Belajar mengarahkan manusia melakukan perubahan dalam diri manusia, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas yang meliputi ruang intelektualitas manusia, emosional, dan spiritual. Belajar harus senantiasa terbangun dalam sebuah tatanan yang sistematis, progresif, berkesinambungan dan terpola, hal ini dimaksudkan tujuan belajar secara normatif dapat diraih, yaitu terciptanya insan yang memiliki kognitif, afektif, dan psikomotorik yang mapan dan dapat dipertanggung jawabkan.

b. Pembelajaran adalah kegiatan belajar mengajar yang terjadi antara seorang pembelajar (peserta didik) maupun pebelajar (pendidik). Pembelajaran sebagai sebuah proses harus senantiasa dilakukan secara sistematis (pembelajaran harus runut, tidak semarawut), progresif (pembelajaran harus diarahkan kepada hal yang lebih maju atau bersifat futuristic/tidak arkistik), dan berkesinambungan (pembelajaran harus dilakukan terus menerus ata terus berlanjut). De Block mengatakan pembelajaran harus diarahkan dari yang parsial menuju yang lebih integral, dari yang terbatas menuju yang lebih luas dan fundamental, dan dari yang terkhusus menuju yang universal. Bloom (1953) mengarahkan pembelajaran pada tiga aspek, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.

c. Mendidik adalah kegiatan yang dilakukan dalam rangka mengarahkan manusia lebih manusiawi lagi, yaitu selain penanaman nilai-nilai keilmiahan, juga di dalamnya penanaman nilai-nilai kemanusiaan. Paulo Freire (1978) mengatakan mendidik dalam dunia pendidikan harus diarahkan dalam rangka peningkatan harkat dan martabat manusia. Lebih jauh lagi, Freire menyatakan pendidikan harus senantiasa membebaskan manusia dari belenggu materi. Sedangkan Ali Syari’ati (1980) mengatakan kegiatan mendidik harus senantiasa dibangun keterhubungan antara manusia dan Sang Pencipta (lebih bermoral). Al-Ghazali lebih mengarahkan kegiatan mendidik dilakukan dalam rangka menciptakan anak didik yang memiliki akhlak mulia (akhlakul karimah). Bagi saya, kegiatan mendidik senantiasa dilakukan dalam rangka menciptakan anak didik menjadi manusia yang utuh (tidak mengalami split personality).

d. Membimbing adalah kegiatan pengajaran yang lebih diarahkan pada aspek kognitif dan psikomotorik semata. Disinilah letak perbedaan mendasar antara mendidik (pendidikan) dengan membimbing (pengajaran). Menurut Freire, pembimbingan hanya mengarahkan manusia menjadi lebih mekanistik. Bagi saya, membimbing merupakan sebuah rangkaian pembelajaran yang sistematis dan berkesinambungan. Membimbing langkah awal dalam pendidikan, yaitu terciptanya manusia yang memiliki keahlian dari sisi kognitif dan psikomotor yang dilandasi akhlak dan prilaku yang baik.

2. Tujuan belajar adalah mengubah prilaku. Deskripsikan masing-masing beberapa prilaku tersebut!

Jawaban

Seperti yang telah disebutkan dalam jawaban soal sebelumnya bahwa belajar merupakan usaha sadar untuk melakukan sebuah perubahan prilaku, dari yang buruk menjadi lebih baik (etis/afektif), dari yang tidak tahu menjadi tahu (kognitif dan psikomotorik), dan dari jelek menuju yang lebih bagus/indah (estetika). Disini saya akan memberikan perubahan prilaku melalui empat pendekatan.

Pendekatan pertama adalah pendekatan kognitif, yaitu pendekatan yang didasarkan pada asumsi atau keyakinan bahwa kemampuan kognitif merupakan suatu yang fundamental dan yang membimbing tingkah laku seseorang. Hal ini bisa kita lihat, semakin tinggi tingkat pengetahuan (kognitif) seseorang, maka tingkah lakunya akan semakin terpola dan bisa lebih bertanggung jawab secara mandiri.

Pendekatan kedua adalah lingkungan sosial, yaitu pendekatan yang didasarkan bahwa keadaan lingkungan social setiap individu sangat memberikan pengaruh yang berarti terhadap prilaku seseorang. Lingkungan yang baik akan mengantarkan seseorang untuk bertingkah laku yang baik pula.

Pendekatan ketiga adalah etologis, yaitu pendekatan yang didasarkan pada perspektif evolusioner (prinsip evolusi). Bisa kita temukan secara langsung perubahan prilaku seseorang juga dilatar belakangi struktur bawaan sejak lahir, muncul karena adanya streotip, atau lebih kentalnya bisa dikatakan karena faktor keturunan yang sudah mendarah daging.

Pendekatan keempat adalah teologis, yaitu pendekatan yang didasarkan ajaran agama atau kepercayaan tertentu. Islam mengajarkan akhlak mulia, Budha mengajarkan pekerti luhur, dan lain sebagainya. Bila dikontekskan dengan tujuan belajar, yaitu perubahan prilaku dari prilaku buruk menjadi akhlak baik dan dari yang tidak berestetika menjadi lebih bagus. Baik buruk berarti itu dalam tataran etis dan busuk bagus dalam tataran estetika, semakin kita memiliki ilmu pengetahuan dari proses belajar, maka akan mengantarkan manusia lebih tahu dan paham akan sebuah prilaku yang baik atau semakin mampu membedakan mana prilaku yang baik dan mana yang buruk. Sehingga dalam melakukan sesuatu yang menyangkut kegiatan kehidupan, dapat memilih dengan tepat prilaku apa yang mesti diterapkan atau dilakukan. Dan ini tidak lepas dari keempat pendekatan di atas dan akan memberikan pengaruh terhadap prilaku kita (sebagai umat islam, prilaku kita mendatangkan manfaat atau mudharat, pahala atau dosa). Belajar seharusnya diarahkan bagaimana membentuk prilaku yang etis dan berestetika, bukan prilaku yang ugal-ugalan dan tidak humanis. Sebagai contoh, ketika datang ke sekolah atau ke kampus senantiasa berpakaian sopan dan hormat kepada guru atau dosen. Ada pepatah “Hormati gurumu, sayangi temanmu, itu tandanya murid budiman” atau “Hormati yang tua dan sayangi yang muda”.

3. Pembelajaran menuntut kepada guru bersikap: a. Ramah tamah b. Simpatik c. Kreatif d. Dinamis

Jawaban

a. Ramah tamah adalah sikap dimana seorang guru terbuka dengan segala kondisi dan keadaan yang dimiliki peserta didiknya. Guru senantiasa terbuka dan menerima kelebihan dan kekurangan yang dimiliki peserta didiknya tanpa ada diskriminasi atau dikotomi di dalamnya.

b. Simpatik adalah sikap dimana seorang guru selalu menghargai dan menghormati atau dalam arti lain tumbuh rasa memiliki dan kekaguman terhadap prestasi belajar seluruh peserta didiknya.

c. Kreatif adalah sikap dimana guru selalu mengkreasikan metode pembelajaranya, apakah dengan lebih mengaktualkan sumber ajarnya atau memfaktualkan sarana belajarnya. Apalagi sekarang ini, media informasi dan komunikasi yang terus berkembang, guru harus kreatif memanfaatkan sarana dan prasarana yang ada.

d. Dinamis adalah sikap dimana guru selalu berpikir lebih maju dan mengalami perubahan, baik dari segi metode pengajaran dan cara pengajarannya harus senantiasa mengalami kemajuan. Disini bisa diartikan bahwa guru tidak statis dalam proses pembelajaran dan tidak monoton dalam metode pembelajarannya.

4. Pendidikan harus mampu mewujudkan pembelajaran, pembelajaran harus mendidik serta mendidik harus mampu mewujudkan prilaku. Jelaskan maksudnya masing-masing!

Jawaban

 Pendidikan harus mampu mewujudkan pembelajaran, hal ini bisa kita artikan bahwa pendidikan sebagai usaha sadar yang dilakukan oleh manusia senantiasa melalui proses pembelajaran dalam rangka peningkatan kualitas pengetahuan dan kuantitas keilmuan. Pembelajaran dalam pendidikan adalah satu kesatuan yang terpisahkan.

 Pembelajaran harus mendidik, pembelajaran yang integrated dengan pendidikan sudah tentu diarahkan akan terbentuknya manusia yang terdidik. Mendidik disini dimaksudkan bagaimana mewujudkan manusia yang lebih manusiawi lagi (Paulo Freire) dan tidak menciptakan manusia yang mengalami split personality, atau lebih luasnya lagi bahwa manusia yang diciptakan dari kegiatan mendidik dan mengajar adalah manusia yang mapan sisi intelektualnya, sisi emosionalnya, dan sisi spritualnya.

 Mendidik harus mampu mewujudkan prilaku, seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa mendidik harus diarahkan dalam penciptaan manusia yang seutuhnya. Hal ini berarti prilaku peserta didik sebagai output dari proses pendidikan ini memiliki prilaku yang baik. Tidak menciptakan manusia yang split personality. Bisa kita lihat, banyak peserta didik yang mapan dari segi intelektual (kognitif dan psikomotorik), tetapi disisi lain sangat bobrok dalam sisi emosionalnya (lebih hancur lagi sudah tidak). Prilaku yang hadir dari proses pendidikan adalah prilaku yang baik, bermoral, berakhlak mulia, dan mampu bertanggung jawab secara mandiri. Pendidikan jangan sampai melahirkan manusia-manusia yang sekuler.

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 6 pengikut lainnya

  •  
    %d blogger menyukai ini: