RSS

Pengkaderan; Sebuah Jalan Perjuangan*

09 Nov

Oleh: Abdul Zahir**

Islam merupakan ajaran hidup yang memuat system tata nilai kehidupan kemestaan yang bersifat paripurna, kosmopolit, dan egaliter. Karena itu, islam sebagai ajaran hidup, sekaligus merupakan dien (agama) yang menjadi cara pandang (world view) terhadap realitas kesemestaan. Hal ini termanifestasi dalam kesadaran bahwa alam semesta dengan kehidupan  yang inheren di dalamnya merupakan manifestasi dari keberadaan Allah SWT sebagai zat yang telah menciptakan, memelihara, dan memberi kepercayaan kepada manusia sebagai khalifah untuk memanfaatkan alam semesta ini sesuai dengan fitrahnya. Cara pandang seperti ini, merupakan kerangka landasan yang semestinya dipakai oleh umat islam dalam menjalani aktivitas khidupannnya.

Islam sebagai cara pandang, merupakan konsep integral antara tuhan, manusia, dan alam semesta. Pemahaman ketiga realitas ini menentukan prilaku manusia terhadapnya. Kerangka landasan tersebut menjadikan revolusi islam bukan dalam rangka perlawanan terhadap patung-patung berhala, namun secara substansi perlawanan dilakukan pada penghambaan manusia terhadap materi.

Setiap makhluk di alam semesta, termasuk di dalamnya manusia, secara fitrawi memiliki kecenderungan pada nilai-nilai suci yang terkandung dalam dienul islam. Dengan demikian tugas sorang muslim selaku khalifah di dunia adalah mengikuti petunjuk  suci dienul islam dan berkewajiban mengimplemntasikannya dalam bentuk perjuangan (kharakah islamiyah) untuk sebuah peradaban islam yang sesuai dengan kehendak ilahi.

Namun, kondisi realitas menampakkan manusia semakin jauh dari fitrahnya. Orientasi materi dengan pemujaan indera dan akal menyebabkan adanya perubahan nilai kemanusiaan dan ideology sosialnya. Hal ini sering bertentangan dengan cita-cita kultural dan nilai-nilai islam. Kebenaran bukan lagi atas dasar nilai-nilai islam  tetapi dengan paradigma positivistic yang mengakibatkan  manusia mengalami split personality dan kepincangan dalam mengidentifikasi dan mendefenisikan  realitas. Manusia pun pada akhirnya menyembah “tuhan-tuhan” buatan sendiri. Jadi musuh manusia tidak lagi tuhan secara kasat mata seperti pemimpin zalim yang mudah ditaklukkan, namun persepsi atau cara panang dalam memahami realitas kehidupan.

Banyak persepsi dan cara pandang yang posivistik telah menghegemoni kehidupan manusia hingga menjadi makhluk yang tidak merdeka, antara lain feodalisme dan aristokrasi, kediktatoran dan kolonialisme, kapitalisme dan materialisme, socialism dan neo-liberalisme. Semua persepsi dan cara pandang tersebut meniscayakan  semakin terlindasnya kaum mustadhafin secara structural. Peran institusi masyarakat dari kehancuran menjadi mandul sehingga tiap individu harus bersaing bebas tanpa ada perlindungan. Diperparah dengan rendahnya peningkatan kualitas dan kapasitas masyarakat untuk hidup, membuat jurang kesenjangan kualitas hidup semakin lebar dan semakin dalam.

Hal ini dapat dilihat pada system pendidikan yang tidak lagi menjadi system yang memuaskan manusia, malah menjadi sistem pembunuh kaarakter diri manusia. Mahalnya pendidikan dan dominasi pragmatisme pada orientasi pendidikan berdampak  pada perubahan orientasi hidup kearah hegemoni materialisme. Ilmu pengetahuan dan teknologi telah digunakan sebagai alat dominasi kaum terhadap kaum lainnya. Alat dominasi menjadikan kaum-kaum  subordinat semakin jauh dari ilmu pngetahuan dan teknologi itu sendiri. Dan semakin rendahnya ketahanan kehidupan mereka di muka bumi. Dampaknya terlihat pada generasi manusia kontemporer yang semakin permissive dalam berinteraksi dan berorientasi pada hasil semata daripada proses. Hal ini menyuburkan eksploitai kehidupan manusia dan alam semesta yang membawa kerusakan dimana-mana.

Semangat dan ruh seperti inilah yang mesti ditumbuhkembangkan dan diimplematsikan oleh sebuah organisasi. Organisasi yang memegang peran penting dalam pembentukan karakter dan watak individu-individu yang berada dalam organisasi tersebut.

A. Kehadiran Organisasi

Organisasi yang merupakan tempat berproses yang tepat para aktivis, sangatlah memungkinkan untuk menjalankan roda organisasi dengan arah yang tepat. Banyak sudah yang memberikan defenisi tentang organisasi, tapi sampai sekarang, keterpaduan defenisi hanya mengacu pada prosesnya semata. Sangat jelas bisa kita lihat, differensiasi yang muncul pada organisasi hanya mengacu pada wilayah profit dan nirlaba. Lepas dari pada itu, tidak ada lagi kualifikasi yang jelas.

Sebagai umat islam, organisasi merupakan alat dalam menyusun barisan perjuangan untuk membentuk individu-individu yang tangguh, yang siap berkorban untuk bangsa dan agama. Organisasi seperti yang dibahasakan sebelumnya, memberikan nuansa bahwa dalam organisasi hendaknya dibangun dengan dasar dan tujuan yang jelas. Organisasi yang memiliki dasar dan tujuan yang jelas, akan memberikan kemudahan dalam pencapaian visi yang tersusun dengan rapi dalam rupa misi yang strategis dan penuh taggung jawab.

Tujuan adalah sebuah pegangan, sebagaiman umat islam memiliki syahadat yang berfungsi sebagai dasar dan tujuan atas proses kehijraan masing-masing individu. Dari pergumulutan kepentingan pribadi yang hedonistik menjadi lebih altruistik. Sebuah perjungan yang begitu mulia dan organisasi merupakan bentuk penyatuan tujuan dalam bingkai kebenaran. Sebagaiman Imam Ali mengatakan, ”Kesalahan yang terorganisir, sanggup mengalahkan kebenaran yang tak terorganisir”.

Betapa pentingnya organisasi itu. Dan yang lebih penting dalam pendirian sebuah organisasi, adalah bagaimana organisasi tersebut bisa tetap eksist mengahadapi perubahan zaman yang semakin akumulatif dengan segala perbedaaan-perbedaan.

Disinilah posisi pengkaderan. Organisasi yang bisa eksis adalah organisasi yang bisa melahirkan kader sebanyak mungkin dengan kualitas yang sebaik mungkin. Bisa kita katakan bahwa kader adlah agent of change sebuah organisasi.

Sebuah perubahan tidak akan terwujud kecuali muncul dari dalam diri manusia itu sendiri, atau dengan kata lain dari organisasi itu sendiri, atau lebih mikronya lagi, dari kader itu sendiri. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an: ”Sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada mereka sendiri” (Ar-Ro’du:11).

B. Pengkaderan yang Tepat

Setiap pergerakan, ikatan, himpunan, persatuan, dan segala bentuk organisasi sosial-keagamaa pasti memiliki karakter tersendiri dalam proses pengkaderan. Pengkaderan merupakan cara, proses, perbuatan mendidik atau membentuk seseorang untuk menjadi kader. Dalam artian umum, kader adalah orang yang diharapkan akan memegang pekerjaaan penting dalam sebuah organisasi, pemerintahan, atau partai politik tertentu. Sedangkan makna pengkaderan adalah kegiatan yang ditujukan pada usaha pembentukan kader.

Proses pengkaderan masih menjadi tolok ukur utama dalam keberhasilan kaderisasi. Memang nyata demikian. Jika proses kaderisasinya buruk, maka buruk pula kepemimpinannya. Keberhasilansuatui organisasi bukan pada saat dia sukses memimpin, tetapi ia mampu menghasilkankader yang lebih baik saat dia memimpin. Tak heran, jika dalam penggodokan kader diadakan setiap satu periode. Penggodokan itu memiliki jenjangnya masing-masing. Mungkin kita menghenal dasar (basic), muda (intermediate), madya (senior), dan purna (advence). Setiap levelnya memiliki tujun dan target ecara konkret.

Pengakaderan dasar (basic) bertujuan untuk membentuk karakter (characterbuilding) seorang kader. Pengkaderan  selanjutnya lebih pada usaha pengelolaan metodologi berpikir dan analisa masalah, dan pengkaderan selanjutnya lebih bersifat penjaringan isu serta masalah nasional dan lokal.

Mau tak mau, orang melihat dan menilai ruh pergerakan tergantung dari bidang kadernya. Jika bidang kadernya move, maka citra organisasi akan baik. Asumsi seperti ini, secara tidak langsung   telah mensakralkan bidang tertentu dan mendeskreditkan  bidang lain. Secarca tidak lansing, sama saja telah melakukan dikotomisasi, bahwa dalam sebuah struktur ada bidang yang utama dan ada bidang pelengkap.

Ada hal yang sering lupa dilakukan oleh para senior terhadap kader barunya, yaitu follow up. Proses pengkaderan memiliki banyak arti dan memperkuat identitas. Banyak kita temukan kader sangat semangat ketika hanya pada ikut pelatihan saja. Setelah itu, tidak ada tindak lanjut yang jelas bagi para kadernya.

Pada saat proses pengkaderan, para fasilitator berbicara tentang segala hal yang idealis. Memreka memberikan motivasi kepada calon kadernya, ”kalian adalah penerus tongkat organisasi ini”. Mereka yang dikader pun menjadi semangat selama pelatihan. Namun, setelah pelatihan tidak terdengar lagi gaungnya. Masing-masing dari mereka sibuk dengan pekerjaannya. Mereka menganggap proses pengkaderan berhenti pada saat itu saja, setelahnya tidak ada yang peduli dan tak mau tahu kadernya kemana. Yang benar-benar aktif akhirnya bisa eksis, tapi yang tidak diperdayakan menghilang entah kemana. Mungkin ada yang pindah haluan alias pindah ideologi. Hal ini memberikan tanda dan oetanda bahwa pengkaderannya telah gagal.

Karena itu, proses pengkaderan yang hanya beberapa hari itu barulah pemanasan awal. Belum ada apa-apanya. Tema besar yang diusung saat pelatihan baru berhasil 10 persen  saja, karena baru dalam tataran teoritis saja. Tantangan yang sebenarnya adalah pasca pengkaderan (follow up). Jangan menganggap, saat pelatihan segalanya menjadi final. Ubah pola pikir bahwa keberhasilan pengkaderan hanya terpusat pada saat pelatihan saja. Seolah-olah, pasca pengkaderan bukan menjadi penting. Padahal justru pasca pengkaderan itulah yang menjadi lebih penting. Disana kita lebih mengupayakan pendeklatan kultural, dengan cara berbicara dari person ke person atau hati ke hati kepada kader-kader kita.

Ibarat seorang pelari, pengkaderan yang hanya beberapa hari itu adalah start. Untuk menuju finish diperlukan forum-forym  yang merupakan tempat pemberdayaan kader. Bentuknya kondisional. Bisa forum diskusi, kajian rutin, dilibatkan dalam kepaniotian, atau diminta tolong mengadakan sebuah kegiatan. Di sini akan terlihat, mana kader yang tetap eksis dan mana yang hilang. Loyalitas dan kredibiltasnya teruji secara alamiah. Tentunya pendekatan seniornya menjadi kunci selama proses berlangsung.

Hal yang perlu dimiliki para senior atau dalam hal ini penghader adalah sikap terbuka akan sebuah kritikan. Jangan marah ketika kader digerogoti dan dikeroposi oleh gerakan lain. Kita harus siap dikritik oleh siapapun. Jangan malah besar hati dan tidak menerima kritikan. Bila perlu kita harus melakukan autokritik, kritik yang munncul dari adanya kesadaran, dan lebih bersikap objektif.

Secara riil, kita tidak mungkin mencapai tujuan yang muluk-muluk untuk pengkaderan yang diikuti oleh banyak peserta dengan waktu yang singkat dengan kompetensi pengkader yang belum bisa 100% kita standarkan. Secara umum, tujuan untuk membangun, menumbuhkembangkan, meningkatkan dan apapun yang intinya bukan membentuk adalah tujuan yang terbilang realistis. Semisal begini:

  1. Meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jangan dianggap sekedar sebagai formalitas. Peningkatan ketakwaan adalah bangunan dasar untuk membangun peran fungsi sebagai kader. Sebelum dia bisa menjadi agen perubah dan iron stock, hal pertama yang harus dibentuk adalah kekuatan moralitas yang itu bukan hanya berdasar pada conscience atau common sense, melainkan lebih utama dari ajaran agama masing-masing.
  2. Meningkatkan rasa bangga terhadap organisasi dan tanah air. Ini penting untuk membentuk arogansi produktif yang menjadi modal untuk bersedia proaktif menghilangkan cela, membangun prestasi dan reputasi fenomenal dari organisasi dan juga tanah air.
  3. Membina kebersamaan, solidaritas dan kekeluargaan di antara kader.
  4. Menumbuhkembangkan sikap peka, peduli dan solutif. Ini semua adalah sikap yang perlu ditujukan kepada sesama kader dan juga seluruh kader yang ada.

 C. Refleksi

”Sekarang Allah Telah meringankan kepadamu dan dia Telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS.Al-Anfal:66)

Dengan keringanan ini berarti kualitas standar umat Islam adalah dua kali kualitas musuhnya. Jika hal ini menjadi acuan kita, maka seharusnya kader kita memiliki kualitas dua kali dari orang yang belum terbina. Karena itulah profil kader menjadi acuan kita dalam beramal dan memperbaiki diri pada proses pengkaderan. Jika profil tersebut telah kita miliki, maka kita dapat mengatakan bahwa kader tersebut adalah kader yang berkualitas. Kata kuncinya adalah SABAR …..!

Perkaderan sebagai salah satu bagian sistem organisasi dalam pencapaian tujuan organisasi yang memiliki lingkup tersendiri angh berbeda dengan kelengkapan sistem lainnnya. Ruang lingkup pengkaderan yang menjadi suplemen utama dalam kehidupan organisasi, yaitu kader. Pengkaderan harus diarahkan  bagaimana membentuk kader yang memiliki ketakwaan  kepada Tuhan, dalam hal ini Allah SWT, memilik semangat juang untuk melakukan yang terbaik, dan militan menjawab kehidupan lingkungannya, memiliki kepekaan sosial yang tinggi, memiliki soliaritas dan kepedulian, memiliki intelektualitas yang di dalamnya penuh kreativitas dan inovatif, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang amanah, adil, jujur, dan benar yang senatiasa menjadi pengayom dan penuntun di lingkungan sosialnya.

HMI sebagai sebuah organisasi perjuangan dan kader, harus senantiasa mampu memainkan peran dan tanggung jawabnya dengan baik, dengan mencetak kader sebanyak mungkin yang militan yang memiliki kualitas intelektual, spiritual, dan emosional yang mapan. Dan rumusan pola pengkaderan yang termaktub dalam pedoman pengkaderanharus senantiasa dijalankan dengan baik dan ada kesinambungan di dalamnya.

*            Judul makalah yang disajikan dalam rangka pelatihan Senior Course Korp Pengader HMI Cabang Makassar, kamis- Selasa, tanggal 6-11 November 2008.

*            Pemakalah dari Koordinator Komisariat Makassar Barat (Jurusan Elektronika Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar, eksponen 2005)

 
 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 6 pengikut lainnya

  •  
    %d blogger menyukai ini: