RSS

Closed Circuit Televisi (CCTV)

09 Nov

BAB I

 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

            Saat ini Televisi sebagai salah satu media pandang dengar, menjadi suatu sarana yang cukup penting dalam menyampaikan berbagai macam informasi yang ada. Namun keberadaanya sepenuhnya belum dapat dikomsumsi oleh seluruh lapisan masyarakat. Terlebih lagi jika masyarakat tersebut berada pada daerah yang dari segi geografisnya sangat sulit untuk dijangkau. Kemampuan menempatkan sebuah “kamera” televisi dihampir semua tempat telah mempermudah pengembangan banyak industri dan jasa yang menggunakan kamera televisi untuk melihat adegan tanpa memerlukan adanya seorang pengamat atau operator. Kamera-kamera digunakan dalam pengontrolan lalulintas, bank, pengawasan bangunan, pertemuan kelompok-kelompok bisnis penyelidikan di dasar laut, dan monitoring proses industri yang berbahaya.

Komponen utama dari sebuah jaringan Closed Circuit Televisi (CCTV)  adalah kamera televisi dan sebuah monitor untuk memperlihatkan gambar dan suara.

Jaringan Televisi CCTV ini juga dapat berfungsi sebagai alat untuk memonitor kepadatan lalulintas, pengawasan bangunan, pertemuan kelompok bisnis, penyelidikan di dasar laut, serta monitoring proses industri yang berbahaya. Hal ini dapat dilakukan jika menempatkan kamera pada tempat-tempat tertentu seperti bank, pengawasan bangunan, pertemuan kelompok-kelompok bisnis penyelidikan di dasar laut, monitoring proses industri yang berbahaya serta pengajaran kelas ganda.

Jaringan televisi rangkaian tertutup ini dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran kelas ganda. Pembelajaran kelas ganda ini biasanya dilakukan pada saat kuliah umum,  ujian tugas akhir dan sebagainya. Diharapkan dengan Penggunaan Jaringan Televisi CCTV ini, maka  efektifitas dan efisiensi Proses belajar mengajar dapat tercapai

 Jika dikaitkan dengan Jurusan Teknik Elektronika Fakultas Teknik UNM yang saat ini terus membenahi diri, sudah saatnya untuk memperhitungkan pemakaian jaringan televisi CCTV sebagai alat bantu proses pembelajaran, khususnya dalam membantu mahasiswa dan dosen dalam memperlancar proses belajar mengajar.

Selama ini banyak mata kuliah yang diajarkan oleh seorang dosen pada level S1 dan D3 yang materinya sama, namun karena ruangan yang digunakan sebagai ruang kelas sangat terbatas maka materi kuliah harus diajarkan 2 kali. Untuk hal tersebut di atas perlu dicari solusi agar supaya kuliah dapat berjalan dengan efektif dan efesien.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis ingin membuat suatu tulisan dalam bentuk makalah dengan judul: Jaringan Televisi Rangkaian Tertutup (CCTV).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka masalah yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana teori dasar dari CCTV?
  2. Bagaimana cara kerja CCTV dan komponen pelengkapnya?

C.  Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas maka makalah ini bertujuan untuk :

  1. Memberikan pengetahuan dasar tentang CCTV.
  2. Memberikan pengetahuan cara kerja CCTV.

D.  MANFAAT

Adapun manfaat perancangan ini adalah sebagai berikut:

  1. Pengembangan dan penerapan  ilmu pengetahuan yang telah penulis peroleh selama mengikuti perkuliahan pada jurusan Teknik Elektronika Universitas Negeri Makassar.
  2. Bahan referensi pada siswa dan mahasiswa dalam pengembangan keilmuan yang berkaitan dengan rangkaian kamera video.
  3. Tambahan pengetahuan bagi penggemar elektronika terutama tentang aplikasi dari komponen elektronika.

 

BAB II

JARINGAN TELEVISI RANGKAIAN TERTUTUP

(CCTV)

A. Teori Dasar

1. Jaringan Televisi Rangkaian Tertutup (Closed Circuit TV)

            Kemampuan menempatkan sebuah “kamera” televisi dihampir semua tempat telah mempermudah pengembangan banyak industri dan jasa yang menggunakan kamera televisi untuk melihat adegan tanpa memerlukan adanya seorang pengamat atau operator. Kamera-kamera digunakan dalam pengontrolan lalulintas, bank, pengawasan bangunan, pertemuan kelompok-kelompok bisnis, penyelidikan di dasar laut monitoring proses industri yang berbahaya serta pengajaran kelas ganda. Umumnya pemakaian video lebar frekuensi dasar (baseband video) tanpa pembawa (carrier) yang dimodulasi dalam suatu sistem kabel rangkaian tertutup. Gambar dapat satu warna (monochrome) atau berwarna.

            Komponen utama dari sebuah jaringan televisi rangkaian tertutup (CCTV)  adalah kamera televisi dan sebuah monitor untuk memperlihatkan gambar, yang dihubungkan oleh sebuah kabel koaksial 75 ohm. Pelat penyetelan tabung kamera hanya mempunyai diameter sebesar 2/3 inchi (18 mm). Vidicom-vidicom khusus dapat digunakan untuk beberapa pemakaian salah-satu jenisnya adalah video com infra merah  (infra red) yang dapat mendeteksi dalam kegelapan.

2. Dasar Kamera  Televisi

            Alat-alat pengambil kamera telah muncul bersama sejak adanya penyamaran mekanik dengan piringan nipkow (nipkow disk). Dalam sistem ini, sebuah tabung fotolistrik digunakan bersama sebuah roda berputar yang dibolongi dengan lubang-lubang kecil melingkar menuju pusat untuk memanyar elemen-elemen gambar. Alat pengambil  listrik yang pertama sekali adalah pemotong bayangan (image dissector) dan iconoscope. Jenis yang telah disempurnakan adalah inocoscope bayangan dan orthicon. Nama orthicon menunjukkan hubungan yang linear antara masukan cahaya dan keluaran sinyal. Tabung kamera model lama ini digunakan dalam penyiaran televisi pada sekitar tahun 1932 sampai 1945. Kemudian alat lain yang digunakan adalah pemayar bintik terbang (flying spotscanner). Dalam metode ini, bintik cahaya dari layar tabung sinar katoda (CRT) digunakan sebagai sumber cahaya untuk sebuah film (bernard grob,1993).

            Tabung kamera orthicon bayangan (IO=image orthicon) yang dikembangkan pada tahun 1945 menjadi beban kerja standar dari televisi untuk beberapa tahun sebab kepekaannya yang tajam akan tetapi, tabung kamera ini relatif besar dan mahal sebab strukturnya yang rumit. sekarang ini kamera praktis digunakan dalam sebuah pemakaian televisi, termasuk penyiaran, kamera-kamera portable kecil, kamera pengawas, dan penggunaan di dalam industri.

            Rincian konstruksi kamera diperlihatkan pada gambar 1. kamera terdiri dari sebuah pembungkus gelas sebuah faceplate yang rata secara optik di ujung, guna menerima masukan cahaya. Pada permukaan belakang faceplate dibagian belakang pembungkus yang dihampakan, terhadap bahan peka cahaya yang bekerja sebagai pelat sasaran atau pelat bayangan.

Pelat tersebut memiliki dua lapisan  kedepan, menghadap cahaya, adalah suatu lapisan tipis yang dapat tembus cahaya (transparan) tetapi secara listrik bersifat penghantar. Lapisan ini terbuat dari oksida (SnO). Sambungan listrik dilakukan kelapisan ini oleh sebuah cincin sasaran (target) ring logam yang mengelilingi tabung. cincin logam merupakan terminal keluaran sinyal.

            Bagian belakang  pelat sasaran yakni yang menghadap senapan elektron, memiliki suatu lapisan bahan peka cahaya yang biasanya adalah trisulfida antimoni. Lapisan ini adalah fotokonduktif. Tahanannya berkurang terhadap pertambahan cahaya. Sebagai akibatnya, perubahan-perubahan intensitas cahaya dapat diubah keperubahan sinyal listrik.

            Pemandangan difokuskan oleh sebuah lensa optik kesasaran lensa. Cahaya lewat melalui faceplate gelas dan permukaan konduktif bagian dalam kepelat bayangan fotokonduktif yang dipayar oleh berkas elektron. Sinyal kamera yang dihasilkan diambil dari cincin sasaran. Umumnya kamera terbagi dalam tiga ukuran menurut diameter faceplate, yakni : 1,2 inci (30,5 mm); 1 inci(25,4 mm);  dan 2/3 inci (18mm). Panjangnya adalah sampai 8 inci (127 sampai 203 mm).

a. Berkas Elektron Dalam Kamera

Elektron-elektron yang dimulai pada katoda, yang dipanasi oleh emisi termionik, seperti dalam tabung hampa gas,. Tegangan pemanas adalah 6,3 V pada 95 mA. Elektron-elektron katoda ditarik kesasaran oleh kisi pemercepat positif G2 pada 300V. Akan tetapi, kisi pengatur G1 disebelah katoda mengontrol muatan ruang disebelah katoda. Perhatikan bahwa G1 adalah –30V dengan acuan pada katoda yang ditanahkan. Tegangan bias ini mengontrol kerapatan elektron, atau jumlah arus berkas. Keduanya, G1 dan G2 adalah slinder-slinder logam kecil beserta sebuah cela (apertur) melalui mana berkas elektron dapat lewat.

Setelah G2 adalah elektroda kisi berfokus panjang G3 pada 260 V. Berikutnya adalah rangkaian G4 adalah 400 V berkenaan terhadap katoda.

b. Fokus Berkas

Elektron-elektron dibuat mengumpul kesebuah berkas  sempit oleh lensa elektrostatik didalam senapan oleh sebuah kumparan luar oleh pemfokusan magnetik. Pehatikan bahwa kisi focus G3 pada 260 V kurang positif dari pada kisi pemercepat pada 300 V. Hasilnya adalah penurunan kecepatan elektron-elektron membuat mereka mengumpul di tengah berkas. Disamping itu, arus dalam kumparan fokus magnetik dapat disetel. Kumparan fokus mengelilingi kumparan-kumparan defleksi dalam rakitan ganda di sekililing tabung.

c. Defleksi Berkas

Untuk pemayaran bayang-bayang, berkas elektron dibuat bergerak dari sisi-kesisi pada laju garis horisontal dan secara vertical pada laju pengulangan medan oleh arus dalam kumparan-kumparan defleksi. Masing-masing pasangan kumparan, yakni dua untuk defleksi H dan dua untuk defleksi V dililitkan dalam bentuk lana dalam perakitan ganda agar pas sekeliling pembungkus gelas.

Berkas elektron bergerak tegak lurus arah medan magnet. sebagai akibatnya, kumparan defleksi H dipasang diatas dan dibawah tabung. Medan magnet ini berada dalam bidang vertikal guna menyimpankan berkas secara horisontal. Dengan cara sama, kumparan defleksi vertikal ditempatkan pada salah satu sisi tabung.

d. Pendaratan Berkas (Beam Landing)

Di depan kisi (grid) G3, dekat pelat sasaran, mata jalah kawat (wire mesh)  untuk G4 berfungsi sebagai moncong senapan elektron. Kisi G4 adalah sebuah piringan dengan mata jala kawat yang sangat halus. Potensialnya adalah 400 V terhadap katoda. Akan tetapi, sasaran berada pada potensial yang jauh lebih rendah khasnya adalah 50 V. Akan tetapi, pelat sasaran adalah negatif dibandingkan dengan G4. akibatnya, elektron-elektron diperlambat dan berkas mencapai sasaran dengan kecepatan yang sangat rendah.

Disamping itu, medan listrik antara sasaran dan mata jala adalah tegak lurus pada permukaan sasaran. Sebagai akibatnya, elektron-elektron mencapai dengan sudut yang tegak lurus, pada semua titik pada pemukaan, di tengah-tengah, demikian pula dengan  pojok-pojok dan sisi-sisi pelat bayangan. Pendaratan berkas yang tegak lurus memungkinkan fokus yang lebih seragam di semua pada permukaan. Keuntungan lain dengan adanya berkas pemayaran pada kecepatan rendah adalah tidak adanya pancaran (emisi) sekunder elektron-elektron dari sasaran, yang dapat berinterprensi dengan efek foto konduktif untuk bayangan.

Sinyal video untuk gambar di mulai di dalam kamera. Bayangan optik difokuskan pada sebuah pelat sasaran yang peka cahaya di dalam tabung kamera. Dengan menggunakan kamera efek  fotolistrik, perubahan-perubahan cahaya diubah menjadi sinyal listrik yang bersesuaian.

Konversi dari seluruh bidang gambar menjadi sinyal video dilakukan dengan proses pemayaran. Berkas pemayaran elektron di dalam tabung kamera ”melihat” masing-masing elemen gambar dari kiri ke kanan dalam tiap-tiap garis horizontal, garis demi garis dari atas ke bawah. Begitu pemayaran dilanjutkan dengan urutan ini, nilai cahaya untuk setiap titik  di dalam gambar di ubah menjadi keluaran sinyal. Sistem dasarnya sama untuk televisi berwarna dan hitam putih. Akan tetapi untuk sistem televisi berwarna sinyal informasi gambar dibagi atas warna merah, hijau, dan biru.

e. Konversi Fotolistrik (Photoelectric Convertion)

Dibagian dalam tabung kamera, bayangan cahaya dikonversi menjadi suatu pola muatan listrik. Jumlah muatan untuk masing-masing elemen gambar bervariasi secara linear berbanding lurus dengan jumlah cahaya. Pola muatan ini dipayar secara berurutan menurut waktu oleh berkas elektron yang menyapu lewat pelat bayangan. Di sini pemayaran berlangsung dari kanan ke kiri dan dari bawah ke atas. Perhatikan bahwa bayangan (image). Dalam tabung kamera diubah oleh lensa.

Fungsi berkas pemayaran elektron adalah mengosongkan muatan tiap-tiap titik di dalam pola muatan bayangan. Pengosongan muatan ini menghasilkan arus elektroda keluaran dari tabung kamera. Jika pola muatan keseluruhan di payar, arus sinyal dihasilkan untuk gambar.

f. Kamera Televisi Image Orticon

Kamera Televisi berfungsi untuk mengubah energi cahaya dari objek yang akan dibentuk menjadi  sinyal.  Salah satu jenis kamera televisi yang umum digunakan adalah  kamera image orticon. Prinsip kerja kamera orticon adalah dynode mengalirkan arus ke target yang berhubungan dengan foto elektron  kemudian arus dipantulkan. Arus yang dipantulkan dipengaruhi oleh tegangan foto elektron. Tegangan foto elektron tergantung dari cahaya obyek. Arus yang dipantulkan oleh target akan menjadi sinyal video.

 

 

Gambar 1.  kamera Televisi

  1. Foto elektron (electron image)
  2. Focusing coil
  3. Deflection coil
  4. Aligmen Coil
  5. Dynode
  6. Target
  7. Grid Wall Coating
  8. Scanning Beam
  9. Electron gun
  10. 10.  Terminal Sinyal Vid

g. Catu Daya

Catu daya adalah pesawat atau alat yang mampu mengubah tegangan arus bolak balik menjadi tegangan searah. Rangkaian control elektronika yang merupakan alat bantu di dalam sistem  pengontrolan tidak dapat bekerja dan berfungsi sebagaimana mestinya tanpa adanya catu daya sebagai pemberi sunber tegangan arus searah (Oman Somantri, 1993,hal 75)

  1. Transformator Penurun Tegangan

Trafo penurun tegangan adalah trafo yang dipergunakan untuk menurunkan tegangan sumber yang tinggi ke sumber tegangan yang lebih rendah, misalnya sebesar 220 volt pada bagian primernya menjadi tegangan  yang lebih rendah pada bagian sekundernya menjadi 6 volt, 9 volt, 12 volt (Oman Somantri,1993,hal 75)

  1. Penyearah

Penyearah (reactifier), merupakan suatu komponen elekrtronik yang berfunsi untuk mengubah tegangan bolak balik (AC) yangtelah diturunkan oleh trafo menjadi tegangan searah (DC). Komponen yang berfungsi sebagai penyearah adalah dioda.

3. Monitor Pesawat Televisi

a. Tuner 

Selektor digunakan untuk memilih gelombang pembawa sinyal-sinyal RF yang dikehendaki sesuai dengan frekwensi atau panjang gelombang dari pemancar yang bersangkutan. Agar supaya selektor ini dapat menangkap gelombang pembawa gambar bersama-sama dengan gelombang pembawa suara hanya menggunakan satu sistem penala (tuner). Maka ia harus mempunyai saluran band (pass band) yang cukup benar, misalnya mc (untuk sistem FCC) atau 7 mc (untuk sistem CCIR).

Seksi penala (tuner) transistor mempunyai tiga bagian pokok yaitu penguat RF yang digunakan untuk memilih sinyal yang ditangkap oleh antena dan memperkuatnya. Bagian osilator lokal untuk membangkitkan sinyal dengan frekwensi tetap dan tertentu dan tingkat mixer yang mencampur sinyal dari output penguat RF dan dari osilator lokal sehingga menghasilkan sinyal dengan frekwensi menengah gambar dan suara yang tetap. Seksi penala RF transistor memerlukan noise dan lebar band yang mencakupi.

Pada umumnya penala RF transistor menggunakan pengawatan yang tercetak dan seringkali transistor dipasang pada soket untuk memudahkan penggantiannya jika mengalami kerusakan transistor.

Tiap kanal televisi dapat dipilih dan dirubah menjadi sinyal IF gambar oleh penala itu. Gelombang televisi mencakup kanal 1 sampai 11 dengan frekwensi 80 sampai 263 MHz dan setiap kanal memiliki lebar frekwensi 7 MHz. Rangkaian input penala dapat dipilih sehingga beresonansi dengan kanal yang dikehendaki.

Penguat RF dalam televisi dapat terdiri dari satu tingkat atau dua tingkat dalam hubungan kaskade. Sinyal RF dimasukkannya ke input seksi mixer.

b. Penguat Menengah (IF) Video

Penguat menengah video televisi transistor digunakan untuk memperkuat sinyal yang keluar dari mixer dengan frekwensi yang tetap yang tertentu. Untuk sistem intercarrier, penguat menengah video bersama-sama dengan sinyal pembawa menengah pertama untuk suara FM. Sinyal dengan frekwensi menengah pertama yang keluar dari mixer terdiri dari sinyal pembawa gambar dan sinyal pembawa suara FM pertama. Sinyal IF suara FM dipisahkan dari sinyal video sesudah detektor video dan dimasukkan ke penguat IF suara.

Seksi penguat IF Video ini terdiri dari dua atau tiga tingkat. Kopling antara tingkat kesatu ke tingkat kedua atau tingkat kedua ke tingkat ketiga dalam seksi penguat IF video ini dapat berupa lingkaran resonansi L-C yang terpisah. Biasanya sirkuit resonansi L-C ini menggunakan teras ferit yang tidak dapat diatur, sehingga memudahkan pengetriman.

Penguatan tenaga yang dibutuhkan dari penguat IF Video adalah beda antara jumlah penguatan dari antena sampai detektor dengan penguatan yang dihasilkan oleh tingkat penala (tuner). Ketentuan untuk sensitivitas ialah bahwa sinyal input kira-kira 25 mikro-volt pada penala dengan impedansi 75 ohm dapat menghasilkan tegangan 4,7 K. Ohm dan dapat menghasilkan kontras gambar yang normal.

c. Penguat Video

Fungsi penguat video yaitu digunakan untuk memperkuat sinyal video yang keluar dari output detektor dan memasukkannya ke input tabung gambar (CRT) untuk diubah menjadi gambar yang dapat dilihat.

Penguat video juga berfungsi antara lain:

  1. Menerima sinyal dari detektor video.
  2. Memperkuat sinyal dari detektor yang memasukkan ke input CRT.
  3. Mencabang sebagai sinyal video yang dimasukkannya ke sirkuit singkronisasi.
  4. Memberikan sinyal AGC untuk mengatur penguatan seksi RF dan IF secara outomatis.
  5. Menyediakan pengatur kontras
  6. Menyediakan pengatur brightnes (kadang-kadang pada input CRT).
  7. Menerima pulsa-pulsa penekan retrase, sehingga sinyal retrase tidak tampak pada layar CRT.
  8. Memisahkan sinyal IF suara dari sinyal video dan memasukkan ke seksi penguat IF suara.

Sinyal yang keluar dari detektor video kebanyakan lebih rendah kira-kira 1 Vpp, sedangkan yang masuk ke tabung gambar kira-kira 75 Vpp. Jadi penguat tabung tingkat ini hanya terdiri satu tingkat saja.

Kedudukan pokok untuk input penguat video adalah:

  1. Harus dapat memberikan inpedansi input yang cukup tinggi
  2. Harus dapat menghasilkan penguatan yang cukup untuk meliputi dan frekwensi yang luas.
  3. Inpedensi outputnya harus rendah, sehingga dapat sesuai dengan kebutuhan input tingkat berikutnya, serta merupakan sumber pulsa-pulsa singkronisasi impedansinya rendah

d. Tabung Sinar Katoda  (CRT)

Tabung sinar katoda tabung gambar yang banyak digunakan dalam televisi transistor adalah biasa yaitu sistem pandangan langsung. Dalam sistem ini gambar dapat dilihat pada permukaan atau layar CRT secara langsung.

Tabung sinar katoda pada penerima menjalankan fungsi yang berlawanan dengan tabung kamera pada pemancar. Tabung mengubah sinyal listrik menjadi suatu bayangan optik. Sinyal listrik yang merepretasikan gambar dipasangkan pada elektroda pengatur yang mempunyai fungsi serupa dengan kisi-kisi pengatur (control grid). Sinyal ini menyebabkan berubahnya potensial elektroda pengatur disekitar suatu tingkat rata-rata dan jika potensial ini menjadi lebih negatif maka identitas berkas elektron akan berkurang. Hal ini mengakibatkan berkurangnya pula tegangannya (brightness) titik yang dibentuk layar. Layar fluoresen dibuat fosfor yang memancarkan cahaya bila bom dengan berkas elektron.

Alat-alat magnetis digunakan CRT televisi transistor, Alat-alat ini digunakan sebagai “ion trip” untuk pemusatan (centering), koreksi gambar, dan fokus pada gambar serta untuk memusatkan jalannya  berkas elektron.

Magnet untuk ion trap bagian A, dipasang dengan menggunakan klep pada lehar CRT, terpisah dengan gulungan defleksi (yoke). Tujuan pemasangan ion trap ini mengarahkan jalannya sinar elektron agar searah dengan sumbu mendatar CRT saat elektron belum keluar dari leher CRT.

Magnet C pada gambar adalah magnet yang digunakan untuk mengemudikan jalannya sinar elektroda. Magnet ini berbentuk lingkaran tipis seperti cincin dipasang mengelilingi leher CRT. Dengan menggunakan magnet ini maka jalannya elektron pada celah elektroda terakhir padat ditengah-tengah.

Magnet centering untuk gambar (pemusat gambar) yaitu bagian D adalah merupakan pengatur letak gambar pada layar agar gambar dapat ditengah-tengah. Magnet E adalah untuk mengoreksi bentuk gambar, misalnya gambar agak berubah dari bentuk semula, dapatlah dikoreksi dengan mengatur kedudukan magnet itu. Magnet ini dipasang dekat aquadat dan bentuk batang ferid yang agak panjang.

e. Rangkaian Regulator 

Sumber tenaga untuk tegangan rendah (PSA tegangan rendah) digunakan untuk memberikan tegangan dan tenaga pada semua tingkat (bagian) sehingga tingkat-tingkat itu bekerja normal. Dari PSA tegangan rendah ini dihasilkan tegangan AC untuk filamen-filamen tabung, termasuk filamen CRT dan tegangan DC yang dibutuhkan oleh elektroda-elektroda tiap-tiap tingkat yang membutuhkannya. Untuk televisi tabung, tegangan DC ini antara 200-300 volt, tergantung dari pada perencanaannya. Untuk televisi transistor PSA tegangan rendah dihasilkan tegangan DC yang tidak tentu, yang juga tergantung daripada perencanaannya.

Televisi transistor ukur kecil (14 inch ke bawah), pada umumnya hanya memerlukan tegangan DC sekitar 12V, sehingga cukup diberi tegangan dari accu (bateray), tetapi untuk televisi ukuran besar 20-24 inchi, pada umumnya memerlukan tegangan DC dari PSA. Tegangan rendah yang lebih tinggi lagi dan ada yang sampai 100 Volt lebih.

Bila pesawat televisi dihubungkan pada sumber tegangan (listrik) 110/220 volt AC, maka di dalam pesawat televisi ada sirkuit yang merubah tegangan AC 110/220 volt menjadi tegangan DC 11,5 – 12 Volt, sirkuit ini disebut adaptor stabilisator atau sirkuit DC voltage regulator.

       f. Rangkaian Vertikal Defleksi 

Seksi defleksi vertikal (sweep defleksi) dalam pesawat televisi penerima berfungsi untuk membangkitkan arus gigi gergaji dengan frekwensi medan gambar 50 Hertz untuk untuk sistem CCIR dan 60 Hertz untuk sistem FCC. Arus gigi gergaji tersebut dimasukkan ke gulungan defleksi vertikal terdapat pada leher tabung gambar dan untuk memberi pulsa-pulsa blanking vertikal pada salah satu elektron CRT agar saat gigi gergaji sedang retrace sinar katoda terputus dan tidak tampak pada layar.

Pada umumnya susunan sirkuit defleksi vertikal dalam televisi penerima terdiri dari tiga tingkat:

  1. Osilator vertikal
  2. Penguat vertikal (driver)
  3. 3.         Penguat akhir (output)

Osilator vertikal digunakan untuk membangkitkan tegangan listrik AC dengan bentuk gelombang khusus, yang waktunya atau frekwensinya disingkronkan dengan sinyal singkron vertikal dari pemancar. Jika tidak ada sinyal singkron vertikal yang masuk ke seksi osilator vertikal, maka osilator itu akan bekerja bebas, artinya frekwensi tidak terpengaruh oleh sinyal singkron.

Sinyal yang keluar dari osilator vertikal dimasukkan ke tingkat penguat penguat vertikal, yang biasanya juga merupakan penguat akhir vertikal. Dari tingkat penguat akhir ini dihasilkan arus sweep yang diperlukan untuk mengerjakan scanning vertikal dengan memasukkan arus tersebut ke gulungan defleksi vertikal yang dipasang pada leher tabung gambar (CRT). Arus yang mengalir di dalam gulungan defleksi vertikal (Yoke) adalah arus yang benar-benar linier dan dibutuhkan oleh pekerjaan scanning.

g. Horisontal Defleksi

Rangkaian defleksi horisontal biasanya terdiri dari: rangkaian AFG, rangkaian osilator horisontal, rangkaian driver dan output horisontal. Fungsi sirkuit defleksi horisontal adalah untuk membangkitkan arus gigi gergaji dengan frekwensi horisontal dan frekwensi ini menurut sistem CCIR sama dengan 15625. Arus gigi gergaji dari penguat horisontal dimasukkan ke gulungan defleksi horisontal pada leher tabung kinecop untuk men-sweep sinar berkas elektron sehingga bergerak dalam arah mendatar.

Transformator output horisontal dilengkapi dengan gulungan untuk tegangan tinggi AC dan tegangan tinggi ini dimasukkan keperata tegangan tinggi kemudian setelah menjadi DC digunakan untuk memberinya tegangan pada noda kedua tabung.

Dalam seksi sweep horisontal terdapat pengatur-pengatur yang digunakan untuk:

  1. Mengatur leher horisontal (amplitudo gigi gergaji horisontal)
  2. Mengatur keadaan linier horisontal
  3. Pengatur diam horisontal (horisontal hold-control).

Biasanya pengatur-pengatur tersebut dipasang knop yang dapat diputar dari luar dengan mudah dan terletak dipanel depan, belakang atau samping televisi penerima.

  1. 4.         Amplifier

Pada penggunaan rangkaian TV tertutup sebagai sarana pembelajaran kelas ganda ini, juga dilengkapi dengan  rangkaian amplifier. Rangkaian ini dipasang agar suara yang kita keluarkan dapat terdengar jelas di semua ruangan.

Pada garis besarnya amplifier bekerja dengan cara sebagai berikut:

Suara yang kita hasilkan masuk dalam mikrofon (mik) yang kemudian disalurkan ke amplifier. Di dalam amplifier ini, amplitudo diolah dan dilipat gandakan hingga beberapa kali. kemudian disalurkan melalui output amplifier yang seterusnya masuk dalam pengeras suara (loadspeaker). Urutan diatas dapat kita lihat pada gambar dibawah.

Gambar 4. Blok Diagram Rangkaian Amplifier ( penguat suara )

5. Kabel Koaxial

            Penggunaan kabel merupakan sistem penting dalam keberhasilan televisi kabel, dimana saluran harmonik bisa terjadi. Sistem kabel televisi yang dipakai memiliki frekuensi gambar 6 Mhz yang mana ada saluran harmonik sebesar 66 Mhz yang hanya berjarak 1,25 Mhz dari frekuensi carrier penyiarannya 67,25 Mhz. Untuk memperoleh keberhasilan dalam sistem televisi  kabel ini kita bisa memakai coaxial pada saluran frekuensi, sebab jenis kabel ini merupakan saluran transmisi yang efektif.

Gambar 5. Konstruksi kabel coaksial

     Kabel koaxial yang baik adalah jenis kabel type RG-59U, kabel ini memiliki impedansi karakteristik 72-75 ohm, nilai 75 ohm merupakan nilai nominal. Selain itu piranti yang diperlukan lagi agar supaya sinyal televisi kabel bisa bekerja normal, diperlukan piranti seperti gambar berikut:

Gambar 6. Balun penyesuaian impedansi dalam wujud rangkaian elektronikanya dan gambar bawah merupakan bentuk barang yang dijual dipasaran.

            Piranti tersebut dipergunakan untuk kestabilan sinyal masuk dari 75ohm ke 300 ohm yang diperlukan untuk pesawat televisi. piranti ini sangat penting karena masukan coaxianya 75 ohm dan diselaraskan dengan kebutuhan tv sebesar 300 ohm. Komponen balon terbentuk dua komponen 150 ohm atas dan 150 ohm lagi dibagian bawahnya, umumnya bentuk ini digulung kecil sehngga bentuknya praktis .karena memakai piranti ini, maka cacat harmonik yang muncul dapat hilang, sebabnya sinyal bekerja pada jalur ukuran 100 sampai 176Mhz.

B. PENDEKATAN FUNGSIONAL

Komponen utama dari sebuah jaringan televisi rangkaian tertutup (CCTV)  adalah kamera televisi dan sebuah monitor untuk memperlihatkan gambar dan suara. Jaringan televisi rangkaian tertutup ini dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran kelas ganda. Pembelajaran kelas ganda ini biasanya dilakukan pada saat kuliah umum,  Ujian tugas akhir dan sebagainya. Penggunaan jaringan televisi CCTV ini diharapkan pencapain efektifitas dan efisiensi proses belajar mengajar.

Disamping itu, kemampuan menempatkan sebuah “kamera” televisi dihampir semua tempat telah mempermudah pengembangan banyak industri dan jasa yang menggunakan kamera televisi untuk melihat adegan tanpa memerlukan adanya seorang pengamat atau operator.

Jaringan Televisi CCTV ini juga dapat berfungsi sebagai memonitor kepadatan lalulintas, pengawasan bangunan, pertemuan kelompok bisnis, penyelidikan di dasar laut, serta monitoring proses industri yang berbahaya. Kamera-kamera digunakan dalam pengontrolan lalulintas. Hal ini dapat dilakukan jika menempatan kamera, bank, pengawasan bangunan, pertemuan kelompok-kelompok bisnis, penyelidikan di dasar laut monitoring proses industri yang berbahaya serta pengajaran kelas ganda.

Umumnya pemakaian video lebar frekuensi dasar (baseband video) tanpa pembawa (carrier) yang dimodulasi dalam suatu sistem kabel rangkaian tertutup. Gambar dapat satu warna (monochrome) atau berwarna.

BAB III

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan yang telah tersaji dalam beberapa penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan, yaitu :

  1. Kamera-kamera bisa digunakan dalam pengontrolan lalulintas, bank, pengawasan bangunan, pertemuan kelompok-kelompok bisnis, penyelidikan di dasar laut monitoring proses industri yang berbahaya serta pengajaran kelas ganda.
  2. Prinsip kerja kamera orticon adalah dynode mengalirkan arus ke target yang berhubungan dengan foto elektron  kemudian arus dipantulkan. Arus yang dipantulkan dipengaruhi oleh tegangan foto elektron. Tegangan foto elektron tergantung dari cahaya obyek. Arus yang dipantulkan oleh target akan menjadi sinyal video.
  3. Catu daya adalah pesawat atau alat yang mampu mengubah tegangan arus bolak balik menjadi tegangan searah.
  4. Penguat menengah video televisi transistor digunakan untuk memperkuat sinyal yang keluar dari mixer dengan frekwensi yang tetap yang tertentu.
  1. B.     Saran
    1. Diharapkan kepada mahasiswa untuk lebih agresif dan produktif mencari penjabaran keilmuan yang digelutinya dan diminatinya seperti dalam mata kuliah Teknik Audio Video.
    2. Diharapkan kepada Dosen Pembimbing untuk lebih atraktif dalam mentransformasikan keilmuannya.

Makalah Individu

MK. TEKNIK AUDIO VIDEO

JARINGAN TELEVISI RANGKAIAN TERTUTUP

(CCTV)

Oleh :

ABDUL ZAHIR

 052 514 002

PRODI S1

 

 

JURUSAN ELEKTRONIKA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

2008

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11/09/2011 in Sains & Sastra

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 6 pengikut lainnya

  •  
    %d blogger menyukai ini: