RSS

VALIDITAS TES

08 Nov

VALIDITAS TES

A. Pendahuluan

Dalam setiap kegiatan pendidikan tidak akan bisah dipisahkan dari kegiatan evaluasi, tanpa ada evaluasi tidak mungkin akan diketahui hasil usaha pendidikan maka semua kegiatan pendidikan hanya sia-sia belaka, karena kita tidak pernah mengetahui apakah pendidikan yang kita lakukan berhasil atau tidak, baik atau buruk, lulus atau tidak lulus.

Evaluasi adalah kegiatan akhir yang harus dilakukan oleh pendidik untuk mengetahui seberapa jauh penguasaan materi oleh peserta didiknya, atau bisa juga evaluasi diartikan sebagai sebuah proses untuk menentukan nilai segala sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan.

Sekolah sebagai sebuah institusi yang menyelengarakan pendidikan yang diumpamakan sebagai sebuah tempat pengolahan dimana calon siswa sebagai bahan mentah yang akan diolah, maka lulusan sekolah itu diumpamakan sebagai hasil olahan yang siap dipergunakan untuk mengetahui apakah seorang siswa lulus atau tidak lulus maka perlu diadakan evaluasi sebagai alat penyaring.

Hasil evaluasi ini akan digunakan untuk mengambil berbagai keputusan pendidikan , namun tidak semua hasil evaluasi dapat digunakan dan dimanfaatkan untuk mengambil keputusan pendidikan, karena hasil evaluasi itu belum tentu sesuai dengan maksud dan tujuan, proses dan hasil yang diharapkan, disamping itu bagaimana pelaksanaan evaluasi yang dilakukan.

Evaluasi dapat dikatakan baik apabila memenuhi tiga syarat pokok, yaitu validitas (Kesahihan), reliabilitas (kehandalan) dan kepraktisan. Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto dalam bukunya “ Dasar-Dasar Evaluasi Pendidian”, bahwa disamping Validitas, Reliabilitas dan kepraktisan, syarat evaluasi yang baik juga harus memiliki syarat Objektivitas dan Ekonomis.

Dalam hal ini penulis hanya mambahas pada aspek Validitas saja, karena aspek-aspek yang lain akan dibahas pada pemakalah yang lain.

B. Pembahasan

1. Pengertian Validitas.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa Validitas diartikan sebagai sifat benar, menurut bukti yang ada, logika berfikir, atau kekuatan hukum. Menurut Diknas bahwa validitas adalah kemampuan suatu alat ukur untuk mengukur sasaran ukurnya. Sedangkan menurut Wiki pedia Indonesia diterjemahkan , kesahihan, kebenaran yang diperkuat oleh bukti atau data.

Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya.

Sisi lain dari pengertian validitas adalah aspek kecermatan pengukuran. Suatu alat ukur yang valid tidak hanya mampu menghasilkan data yang tepat akan tetapi juga harus memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut.

Dengan demikian kata valid sering diartikan dengan tepat, benar, sahih, absah, sehingga kata valid dapat diartikan ketepatan, kebenaran, kesahihan, atau keabsahan. Menurut Anas Sujiono apabila kata valid dikaitkan dengan fungsi tes sebagai alat pengukur maka tes dikatakan valid adalah apabila tes tersebut dengan secara tepat, secara benar, secara sahih, atau secara absah dapat mengukur apa yang seharusnya diukur, dengan kata lain tes dapat dikatakan telah memiliki Validitas apabila tes tersebut dengan secara tepat, benar, sahih atau absah telah dapat mengungkap atau mengukur apa yang seharus diungkap atau diukur lewat tes tersebut.

Suatu skala atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila instrumen tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Sedangkan tes yang memiliki validitas rendah akan menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran.

Dalam kaitannya dengan tes dan penilaian , Retno mengemukakan tiga pokok pengertian yang bisa digunakan sebagai berikut :

a.    Validitas berkenaan dengan hasil dari sutu alat tes atau alat evaluasi, dan tidak menyangkut alat itu sendiri. Tes intelegensi sebagai alat untuk melakukan tes kecerdasan hasilnya valid , tapi kalau digunakan untuk melakukan tes hasil belajar tidak valid.

b.   Validitas adalah persoalan yang menyangkut tingkat (derajat), sehingga istilah yang digunakan adalah derajat validitas suatu tes maka suatu tes ada yang disebut validitasnya tinggi, sedang dan rendah.

c.  Validitas selalu dibatasi pada pengkususannya dalam penggunaan dan tidak pernah dalam arti kualitas yang umum. Suatu tes berhitung mungkin tinggi validitasnya untuk mengukur keterampilan menjumlah angka, tetapi rendah validitasnya untuk mengukur berfikir matematis dan sedang validitasnya untuk meramal keberhasilan siswa dalam pelajaran mate-matika yang akan datang.

Validitas adalah kesahihan pengukuran atau penilaian dalam berbagai hal. Dalam analisis isi, validitas dilakukan dengan berbagai cara atau metode sebagai berikut.

1. Pengukuran produktivitas (productivity), yaitu derajat di mana suatu studi menunjukkan indikator yang tepat yang berhubungan dengan variabel.

2. Predictive validity, yaitu derajat kemampuan pengukuran dengan peristiwa yang akan datang.

3. Construct validity, yaitu derajat kesesuaian teori dan konsep yang dipakai dengan alat pengukuran yang dipakai dalam penelitian tersebut.

Validitas atau kesahihan menunjukan pada kemampuan suatu instrumen (alat untuk mengukur); mengukur apa yang harus diukur atau ditimbang. Timbangan inilah merupakan alat ukur yang valid dalam suatu kasus yang membutuhkan jawaban. Suatu penelitian yang melibatkan variabel yang tidak bisa diukur secara langsung, maka masalah validitas menjadi tidak sederhana. Karena di dalamnya juga menyangkut penjabaran konsep dari tingkat teoritis sampai tingkat empiris. Bagaimanapun tidak sederhananya suatu instrumen penelitian, harus valid, agar hasilnya dapat dipercaya.

Sifat valid memberikan pengertian bahwa alat ukur yang digunakan mampu memberikan nilai yang sesungguhnya dari apa yang kita inginkan. Jika pada suatu kesempatan kita ingin memperoleh tinggi suatu meja, penggaris merupakan alat ukur yang valid, karena dengan alat ini kita akan dapatkan berapa centi meter tinggi meja tersebut. Meteran gulung juga alat yang valid. Selain itu, pengukuran dengan jengkal tangan juga merupakan cara yang bisa dilakukan. Namun tidak demikian halnya jika kita gunakan termometer badan. Bagaimana kita bisa memperoleh tinggi meja hanya dengan sebuah termometer.

2. Macam-macam Validitas

Menurut Suharsimi ada dua jenis validitas yaitu validitas logis dan validitas empiris . Sementara Retno validitas itu terbagi menjadi lima tipe yaitu validitas tampang (face validity), validitas logis (logical validity), validitas vaktor (factorikal validity), Validitas isi (conten validity), dan validitas empiris (empirical validity).

Sedangkan menurut Anas ternik pengujian validitas hasil belajar secara garis besar dapat dibagi dua, yaitu pengujian validitas tes secara rasional dan pengujian validitas tes secara empirik.

Pada dasarnya para ahli pendidikan melihat pengujian validitas tes itu dapat dilihat dari.

2.1.Pengujian validitas tes secara rasional.

Istilah lain dari istilah validitas rasional adalah validitas logika, validitas ideal atau validitas dassollen. Istilah validitas logika (logical validity) mengandung kata logis berasal dari kata logika yang berarti penalaran,

Dengan makna demikian bahwa validitas logis untuk sebuah instrumen yang memenuhi persyaratan valid berdasarkan hasil penalaran, kondisi valid tersebut dipandang terpenuhi karena instrumen bersangkutan sudah dirancang secara baik mengikuti teori dan ketentuan yang ada.

Dengan demikian validitas logis ini dikatakan benar apabila tes yang dilakukan sesuai dengan ketentuan, peraturan dan teori yang ada, sehingga suatu tes itu dapat dikatakan valid dapat dilihat setelah instrumen soal tes tersebut telah selesai dibuat.

Dalam menentukan sesuatu tes hasil belajar itu valid setelah pengujian validitas tes secara rasianal maka perlu penelusuran dari dua segi.

2.1.1 Validitas isi (conten validity)

Yaitu pengujian terhadap isi yang terkandung dalam tes hasil belajar tersebut. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan. Validitas isi merupakan validitas yang diperhitungkan melalui pengujian terhadap isi alat ukur dengan analisis rasional. Pertanyaan yang dicari jawabannya dalam validasi ini adalah “sejauh mana item-item dalam suatu alat ukur mencakup keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur oleh alat ukur yang bersangkutan?” atau berhubungan dengan representasi dari keseluruhan kawasan.

Pengertian “mencakup keseluruhan kawasan isi” tidak saja menunjukkan bahwa alat ukur tersebut harus komprehensif isinya akan tetapi harus pula memuat hanya isi yang relevan dan tidak keluar dari batasan tujuan ukur.

Walaupun isi atau kandungannya komprehensif tetapi bila suatu alat ukur mengikutsertakan pula item-item yang tidak relevan dan berkaitan dengan hal-hal di luar tujuan ukurnya, maka validitas alat ukur tersebut tidak dapat dikatakan memenuhi ciri validitas yang sesungguhnya.Apakah validitas isi sebagaimana dimaksudkan itu telah dicapai oleh alat ukur, sebanyak tergantung pada penilaian subjektif individu. Dikarenakan estimasi validitas ini tidak melibatkan komputerisasi statistik, melainkan hanya dengan analisis rasional maka tidak diharapkan bahwa setiap orang akan sependapat dan sepaham dengan sejauhmana validitas isi suatu alat ukur telah tercapai.

Validitas isi dapat diusahakan tercapainya sejak saat penyusunan dengan cara merinci materi kurikulum atau meteri buku pelajaran. Yaitu sejauh mana tes hasil belajar sebagai alat pengukur hasil belajar peserta didik, isinya telah dapat mewakili secara representatif terhadap keseluruhan materi atau bahan pelajaran yang harus diuji.

2.1.2. Validitas Konstruksi (Contruct validity)

Secara etimologis, kata kontruksi mengandung arti susunan, kerangka atau rekaan. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas kontruksi apabila butir- butir soal yang membangun tes tersebut mengukur setiap aspek berfikir seperti yang disebutkan dalam Tujuan Instruksional Khusus.

Pengujian validitas konstrak merupakan proses yang terus berlanjut sejalan dengan perkembangan konsep mengenai trait yang diukur. Hasil estimasi validitas konstrak tidak dinyatakan dalam bentuk suatu koefisien validitas.

Dengan kata lain jika butir- butir soal mengukur aspek berfikir tersebut sudah sesuai dengan aspek berfikir yang menjadi tujuan instruksional.

Sebagai contoh jika rumusan Tujuan Instruksional Khusus (TIK), “Siswa dapat mengenal tata cara memandikan mayat”, maka butir soal pada tes merupakan perintah bagaimana cara memandikan mayat dengan baik.

2.2. Pengujian Validitas Tes secara Empiris

Istilah “Validitas empiris” memuat kata “empiris” yang artinya “pengalaman” sebuah instrumen dapat dikatakan memiliki validitas empiris apabila sudah diuji dari pengalaman. Yang dimaksud dengan validitas empiris adalah ketepatan mengukur yang didasarkan pada hasil analisis yang bersifat empirik. Sedangkan menurut Ebel bahwa Empirical Validity adalah validitas yang berkenaan dengan hubungan antara skor dengan suatu kriteria. Kriteria tersebut adalah ukuran yang bebas dan langsung dengan apa yang ingin diramalkan oleh pengukuran.

Jadi empirical validity adalah validitas yang berkenaan dengan hubungan antara skor dengan suatu kriteria. Kriteria tersebut adalah ukuran yang bebas dan langsung dengan apa yang ingin diramalkan oleh pengukuran. Bertitik tolak dari itu maka tes hasil belajar dapat dikatakan telah memiliki validitas empirik apabila berdasarkan hasil analisis yang dilakukan terhadap data hasil pengamatan dilapangan, terbukti bahwa tes hasil belajar itu dengan secara tepat telah dapat mengukur hasil belajar yang seharusnya diungkap atau diukur lewat tes hasil belajar tersebut.

Untuk menentukan apakah tes hasil belajar sudah memiliki validitas empirik ataukah belum dapat dilakukan penelusuran dari dua segi, yaitu segi daya ketepatan meramal (prediktif validity), dan daya ketepatan bandingannya (concurren validity).

2.2.1. Validitas Ramalan (Predictive Validity)

Setiap kali kita menyebutkan istilah “ramalan” maka didalamnya akan terkandung pengertian mengenai “sesuatu yang bakal terjadi masa yang akan datang “ atau sesuatu yang pada saat sekarang belum terjadi dan baru akan terjadi pada waktu-waktu yang akan datang. Apabila istilah ramalan dikaitkan dengan validitas tes maka yang dimaksut dengan validitas ramalan dari suatu tes adalah suatu kondisi yang menunjukkan seberapa jauhkah sebuah tes telah dapat dengan secara tepat menunjukkan kemampuannya untuk meramalkan apa yang bakal terjadi pada masa yang akan datang.

Menurut Suharsimi memprediksi artinya meramal, dengan meramal selalu mengenai hal yang akan datang jadi sekarang belum terjadi. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas prediksi atau validitas ramalan apabila mempunyai kemampuan untuk meramalkan apa yang akan terjadi masa yang akan datang.

Jadi pada dasarnya tes yang dilakukan adalah dengan memberikan bentuk soal, item dan syarat yang diberikan harus memiliki tujuan akhir yang akan ditempuh sehingga proses atau hasil yang dicapai dapat diprediksi sebelumnya.

Contoh seperti seseorang yang akan masuk ke SMU/ SMK harus mengikuti tes tulis baca al-Qur`an sehingga hasil yang diperoleh akan dapat memprediksi apa yang akan dihadapi siswa kelak dalam proses belajar mengajar kalau siswa yang telah mengikuti tes yang baik dan mendapat nilai dan kreteria yang telah ditetapkan maka diramalkan akan dapat mengikuti pelajaran agama dengan baik, begitupula jika hasil tes yang dilakukan tidak dapat dijawab siswa maka siswa nanti akan sulit mengikuti pelajaran agama dengan baik.

2.2.2. Validitas Bandingan (concurrent validity)

Tes sebagai alat pengukur dapat dikatakan telah memiliki validitas bandingan apabila tes tersebut dalam kurun waktu yang sama dengan secara tepat telah mampu menunjukkan adanya hubungan yang searah antara tes pertama dengan tes berikutnya. Menurut Suharsimi dalam hal ini tes dipasangkan dengan hasil pengalaman. Pengalaman selalu mengenai hal yang telah lampau sehingga data pengalaman tersebut sekarang sudah ada.

Validitas bandingan juga sering dikenal dengan istilah : validitas sama saat, validitas pengalaman atau validitas ada sekarang. Dikatakan sama saat sebab validitas tes itu ditentukan atas dasar data hasil tes yang pelaksanaannya dilakukan pada kurun waktu yang sama. Dikatakan validitas pengalaman sebab validitas tes tersebut ditentukan atas dasar pengalaman yang telah diperoleh. Adapun dikatakan sebagai validitas ada sekarang sebab setiap kali kita menyebut istilah pengalaman maka istilah itu akan selalu kita kaitkan dengan hal-hal yang telah ada atau hal-hal yang telah terjadi pada waktu yang lalu, sehingga data mengenai pengalaman masa yang lalu itu pada saat ini sudah ada di tanggan .

Jadi dalam rangka menguji validitas bandingan, data yang mencerminkan pengalaman yang diperoleh masa yang lalu itu, kita bandingkan dengan data hasil tes yang diperoleh sekarang ini. Jika hasil tes yang ada sekarang ini mempunyai hubungan searah dengan hasil tes berdasarkan pengalaman yang lalu, maka tes yang memiliki karakteristik seperti itu dapat dikatakan telah memiliki validitas bandingan.

Misalnya seorang guru ingin mengetahui apakah tes sumatif yang disusun sudah valid atau belum. Untuk itu diperlukan sebuah kriterium masa lalu yang sekarang datanya dimiliki. Misalnya nilai ulangan harian atau nilai ulkangan sumatif yang lalu.

3. Prosedur Validitas

Untuk mengetahui sebuah instrumen atau tes telah valid atau tidak dengan melihat kesesuaiannya dengan hasil yang dicapai. Untuk mengetahui validitasnya terkadang harus melakukan pengujian (tray out) berulang-ulang. Adapun tekhnik-tekhnik yang digunakan untuk mengetahui sebuah instrumen sebagaimana yang dikemukakan Retno, sebagai berikut.

a. Pengukuran dengan mengunakan alat pengukur baru (predictor) kepada sampel subjek untuk validitas (standardization group).

b.  Standardization group dikenai observasi atau pengukuran lain (criterion).

c.  Dengan teknik korelasi ditentukan ada tidaknya kecocokan predictor dengan criterion.

Jika ternyata telah signifikan, predictor bisa disebut valid, tarif signifikasi yang bisa digunakan untuk ini adalah 1% atau 5%.

Menurut Pearson yang dikemukakan Suharsimi bahwa sebuah tes dikatakan memiliki hasil yang sesuai dengan kriterium, dalam arti memiliki kesejajaran antara hasil tes tersebut dengan kriterium. Teknik yang digunakan untuk mengetahui kesejajaran adalah teknik Korelasi Product Moment.

Rumusan korelasi product moment ada dua macam yaitu :

a. Korelasi product moment dengan simpangan.

b. Korelasi product moment dengan angka kasar

Rumus korelasi product moment dengan simpangan:

Rumusan korelasi product moment dengan angka kasar:

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi Validitas

Menurut Retno ada beberapa hal yang mempengaruhi validitas alat pengukur sebagai berikut :

1. Faktor di dalam tes itu sendiri, diantaranya :

1.1. Petunjuk pengerjaan tes yang tidak jelas.

1.2. Istilah / kata- kata dan susunan kalimat dalam item (soal) terlalu sukar.

1.3. Tingkat kesukaran dari item- item tes yang tidak memenuhi syarat.

1.4. Susunan item tes yang kurang baik.

1.5. Kekaburan dalam statemen (pernyataan/ungkapan) yang menyebabkan salah tafsir.

1.6. Kualitas dari item- item tes yang tidak memadai untuk mengukur hasil belajar.

1.7. Tes terlalu pendek.

1.8. Cara menyusun item- item tes tidak runtut.

1.9. Dalam tes objektif pola susunannya, urutan jawaban mudah ditebak.

2. Faktor berfungsinya isi dan prosedur mengajar.

3. Faktor dalam respon siswa, ini terjadi jika :

3.1. Siswa mengalami gangguan emosional dalam menjawab tes.

3.2. Siswa hanya cendrung menerka-nerka dalam menjawab tes.

4. Faktor dalam mengadministrasi tes dan pembijian.

4.1. Karena kurang waktu.

4.2. Karena siswa mendapat “pertolongan” yang tidak sah.

4.3. Cara pembijian hasil tes yang tidak reliabel.

4.4. Gangguan situasi sekitar pada saat tes.

5. Status dari kelompok dan kriterium.

5.1. Tes yang cukup valid untuk kelompok tertentu belum tentu valid untuk kelompok lain, karena faktor usia, jenis kelamin, tingkat kemampuan, latar belakang pendidikan dan kebudayaan,

5.2. Penggunaan kriterium dalam menilai koofisien validitas, kita harus mempertimbangkan hakekat penggunaan kriterium.

Contoh : tes bakat mate- matik hanya valid untuk meramal pencapaian belajar siswa dalam pelajaran fisika yang banyak menuntut perhitungan angka, dan tidak valid meramal kemampuan/ penguasaan bahan fisika yang lain.

Pada prinsipnya tugas seorang tenaga kependidikan sangat sulit dan butuh keseriusan, karena untuk mencari kevalidan bentuk dan item- item soal sangat diperlukan sehingga dapat merencanakan, perbaikan dan pelaksanaan pendidikan masa yang akan datang.

 C.PENUTUP

Kesimpulan

Dari pembahasan tentang validitas makaa dapat ditarik kesimpulan bahwa :

1. Dalam menggunakan konsep validitas dalam kaitannya dengan tes dan penilaian , maka ada tiga pokok pengertian yang harus dipegang yaitu :

1.1. Validitas berkenaan dengan hasil dari suatu alat tes atau alat evaluasi dan tidak menyangkut alat itu sendiri.

1.2. Validitas adalah persoalan yang menyangkut tingkat (derajat).

1.3. Validitas selalu dibatasi pada pengkhususannya dalam penggunaan dan tidak pernah dalam arti kualitas umum.

2. Secara garis besar validitas ada dua macam yaitu : validitas logis (logical validity) dan validitas empirik (empirical validity).

3. Ada lima faktor yang mempengaruhi validitas dalam arti mengurangi validitas yaitu :

1. Faktor didalam tes itu sendiri.

2. Faktor berfungsinya isi dan prosedur mengajar.

3. Faktor dalam respon siswa.

4. Faktor dalam mengadministrasi tes dan pembijian.

5. Status dari kelompok dan kriterium.

Demikianlah pembahasan tentang validitas dalam artian bahwa tugas kita masih panjang untuk mencari langkah- langkah perbaikan masa yang akan datang sehingga pendidikan kita lebih baik untuk masa yang akan datang, tentunya makalah ini masih ada kekurangan perlu perbaikan agar bisa dimanfaatkan, terima kasih.

 DAFTAR PUSTAKA

v  Azwar, Saifuddin., Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2003.

v  Anas Sudijono., Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2007, hlm,93

v  Arikunto, Suharsimi., Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta, PT.Bumi Aksara, 2006, edisi Revisi

v  Darsono, Max., Belajar dan Pembelajaran, Semarang, IKIP Semarang Press, 2000.

v  Deni.K., Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya, Putra Hasan, 2002, hlm.666

v  K, Deni., Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya, Putra Hasan, 2002,

v  Khairon Rosyadi., Pendidikan Profetik, Jakarta, Pustaka Pelajar Offset, 2004

v  Max Darsono., Belajar dan Pembelajaran, Semarang, IKIP Semarang Press, 2000

v  Rosyadi, Khairon., Pendidikan Profetik, Jakarta, Pustaka Pelajar Offset, 2004,

v  Saifuddin, Azwar., Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

v  Sriningsih Satmoko, Retno., Proses Belajar Mengajar, Penilaian Hasil Belajar, Semarang IKIP Semarang Press, 1999

v  Sudijono,Anas., Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2007

http://pustekkom.depdiknas.go.id/index.php?pilih=hal&id=86

v  http.//www.id.wiki pedia.org/wiki/validitas

http://massofa.wordpress.com/2008/01/28/metode-analisi-isi-reliabilitas-dan-validitas-dalam-metode-penelitian-komunikasi/

http://kanafitarbiyah.blogsome.com/2007/10/02/macam-macam-validitas/

 

Tag: , ,

One response to “VALIDITAS TES

  1. Aswad's Room

    03/04/2012 at 21:44

    Bahasannya mantap….

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 6 pengikut lainnya

  •  
    %d blogger menyukai ini: