RSS

TINJAUAN KRITIS PERSPEKTIF PEDAGOGIK TRANSFORMATIF

08 Nov

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Kehidupan manusia dalam abad ke 21 mengalami perubahan dahsyat seperti yang dialami masyarakat dan budaya manusia dalam revolusi industri abad ke 18. Pada abad ke 21 revolusi yang terjadi terutama disebabkan oleh kemajuan teknologi komunikasi serta kemajuan teknologi informasi yang telah mengubah dimensi waktu dan tempat kehidupan manusia. Bukan saja dimensi-dimensi itu berubah, tetapi juga tata cara kehidupan manusia seperti dalam hubungan negara-negara ikut berubah.

Manusia dewasa ini hidup di dalam dunia tanpa batas, menghilangnya kebiwaan negara tradisional, terbukanya dunia untuk perdagangan bebas dengan mengalirnya dana secara internasional ditopang oleh kemajuan ilmu pengetahuan yang sangat cepat, menghasilkan apa yang disebut arus globalisasi yang menerjang kehidupan umat manusia tanpa ampun.

Pada dasarnya kehidupan manusia abad ke 21 ditandai oleh perubahan (change). Perubahan inilah yang menarik pemikiran-pemikiran postmo dan studi kultural. Telah kita lihat postmo mengkaji perubahan-perubahan yang terjadi di dalam kehidupan manusia dari berbagai segi dari kehidupan politik, ekonomi, sosial, pendidikan, seni sastra, budaya, dan budaya popular.

Studi kultural melihat perubahan terjadi di dalam kebudayan khususnya di dalam struktur kekuasaan yang mengatur hubungan antar manusia, manusia dengan lembaga-lembaga sosial, perubahan dalam kebudayaan tradisional yang terpusat kepada suatu kekuasaan tetapi melihat perubahan terjadi bukan hanya pada pusat yang sebelumnya diangap statis “given”, bahkan kadang-kadang dipersepsikan sebagai diberikan oleh Maha Pencipta, beralih pada kajian tentang budaya-budaya pinggiran yang sebelumnya tidak mendapat perhatian.

Pergesaran kekuasaan dari pusat ke pinggiran atau disentring power menghasilkan suatu pandangan tentang kebudayaan yang berbeda dengan pandangan tradisional. Kebudayaan dilihat sebagai suatu keseluruhan yang saling terkait dari komponen-komponen pusat sampai kepinggirannya, semuanya mempunya arti di dalam menentukan kehidupan manusia.

Hal ini menunjukkan bahwa manusia itu mempunyai derajat yang sama di dalam memelihara dan mengembangkan kehidupan bersamanya. Kemampuan terhadap kehidupan budaya yang dimiliki oleh masing-masing kelompok masyarakat ditunjang oleh prinsip hak asasi manusia yang sama sehingga mempunyai hak yang sama untuk membina bersama suatu kehidupan maupun untuk berbeda. Hak kebutuhan untuk diakui (the need of recognition) diserta dengan hak untuk berbeda (the need of being different) merupakan ciri utama dari hakikat manusia yang merdeka.

Pandangan tentang manusia yang merdeka serta mempunyai tanggung jawab serta pandangan mengenai dunia yang terus menerus berubah, seperti yang digambarkan oleh postmo dan studi kultural, merupakan ciri utama dari ilmu sosial dewasa ini. Pedagogik sebagai salah satu ilmu sosial tentunya tidak terlepas dari perubahan pandangan manusia dan pandangan dunia tersebut.

 

  1. BATASAN MASALAH

adapun batasan masalah dari makalah ini adalah.

  1. Bagaimana pedagogik transformatif dan perubahannya?
  2. Bagaimana strategi pedagogik transformatif menghadapi perubahan?

­­­­

  1. TUJUAN PENULISAN

Makalah ini bertujuan untuk.

  1. Menguraikan pandangan pedagogik transformatif dan perubahannya.
  2. Menguraikan strategi pedadagogik transformatif menghadapi perubahan.

 

  1. MANFAAT PENULISAN

Manfaat yang bisa dipetik dari makalah ini adalah.

  1. Memperdalam kajian sosial ilmu pendidikan,
  2. Bahan referensi karya ilmiah lainnya,
  3. Bahan penilaian untuk makalah kuliah.

BAB II

TINJAUAN KRITIS

PERSPEKTIF PEDAGOGIK TRANSFORMATIF

 

  1. Pedagogik Transformatif dan Perubahannya

Kenichi Ohmae (2005), seorang ahli fisika tamatan Masschussetts Institute of Technology yang menjadi ekonom melihat perubahan global tersebut menuntut dalam tiga hal yang diperlukan terutama segi ekonomi global. Ketiga hal itu sebagai berikut.

  1. Perubahan teknologi,
  2. Perubahan pribadi dalam menghadapi perubahan teknologi tersebut,
  3. Perubahan di dalam organisasi.

Pedagogik sebagai suatu bidang ilmu sosial tentunya tidak dapat menutup mata terhadap perubahan global yang terjadi. Oleh karena pendidikan merupakan aspek kebudayaan dan kebudayaan mengalami perubahan di dalam era globalisasi. Maka proses pendidikan tidak luput dari perubahan-perubahan di dalam masyarakat. Bahkan pendidikan yang berkenan dengan pembinaan pribadi manusia seharusnya berfungsi sebagai agen perubahan itu sendiri.

Artinya masyarakat modern yang refleksif yang akan dibangun hendaknya dipersiapkan melalui proses pendidikan. Seperti yang ditunjukkan postmo dan studi kultural, modernisasi yang diinginkan dalam era globalisasi bukannya menerima segala sesuatu yang datangnya dari luar tetapi merupakan suatu modernisasi reflektif hasil kajian dari pribadi-pribadi yang menguasai ilmu pengetahuan serta dapat memilih berdasarkan pertimbangan-pertimbangan moral.

Arus globalisasi membawa banyak unsur, baik positif maupun yang negatif. Oleh sebab itu, seorang pribadi harus mengadakan pilihan yang intelegen. Dasar dari proses pemilihan tersebut yaitu pengetahuan, tindakan, kebiasaan yang diperoleh dari habitus seseorang dimana ia dibesarkan. Unsur penting dari suatu habitus ialah kebudayaan yang dimiliki seseorang sejak lahirnya.

Arus globalisasi jangan menyebabkan seseorang hanyut di dalam perubahan tanpa arah, tetapi dapat memilih mana yang terbaik sesuai dengan habitus seseorang. Ini artinya seseorang harus membuka diri terhadap perubahan yang terjadi di dalam masyarakat.

Proses pemilihan arah merupakan hasil tempaan dalam kehidupan seseorang. Oleh sebab itu, proses belajar mengajar tidak terbatas kepada hasil akhir tetapi terutama kepada proses dalam mencapai hasil tersebut. Pedagogik transformatif merupakan suatu proses yang mentransformasikan kehidupan ke arah yang lebih baik. Inilah yang disebut visi pendidikan pedagogik transformatif.

Pedagogik transformatif bukan hanya terfokus kepada peserta didik an sich tetapi kepada peserta didik dalam habitus budayanya yang “terus menerus menjadi”. Peserta didik dan budayanya akan berkembang dan terarah pada kehidupan bersama yang penuh tantangan karena terus-menerusberubah dengan cepat. Pedagogik tradisional seperti di dalam gerakan pendidikan progresif di arahkan kepada kebutuhan peserta didik (child centered education), dapat pula berupa society centered education. Kedua approach tersebut tidak memadai di dalam pedagogik transformatif. child centered educationmengasingkan peserta didik dari masyarakat dan kebudayaannya, sedangkan society centered education mengabaikan kemerdekaan peserta didik karena tunduk kepada kebutuhan masyarakat yang didominasi oleh struktur kekuasaan tertentu. Hal ini menghilangkan hakikat manusia yang paling asasi ialah kemerdekaannya. Demikianlah pedagogik transformatif yang dinamis yang terus menerus mengantisipasi perubahan yang akan datang.

  1. Strategi Pedagogik Transformatif menghadapi Perubahannya

Seperti yang di kemukakan Kenichi Ohmae (2005) bahwa di dalam di dalam bidang ekonomi perlu disusun dan direncanakan secara strategis untuk menghadapi perubahan yang cepat tersebut. Dalam bidang pendidikan, strategi yang sama dapat dan perlu dikembangkan.

  1. Revolusi Teknologi

Menghadapi perubahan yang besar yang diakibatkan oleh perkembangan yang sangat cepat dalam teknologi informasi, proses pendidikan perlu memanfaatkan kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh teknologi informasi di dalam pengembangan individu maupun organisasi pendidikan. Di dalam memanfaatkan revolusi teknologi informasi yang penting adalah kita perlu menjaga agar tidak jatuh kepada proses robotisasi pendidikan. Teknologi adalah sekedar alat untuk komunikasi bukan sebaliknya. Janganlah teknologi informasi dan komunikasi dijadikan dewa penyelamat untuk dapat mengatasi semua masalah pendidikan. Kita jangan melupakan bahwa manusia bukanlah robot karena manusia adalah makhluk yang dikaruniai Sang Pencipta dengan kemerdekaan dan daya ciptanya.

Hal ini berarti kreativitas tetap mengatasi kemampuan teknologi. Bukankah kemajuan teknologi itu sendiri merupakan buah karya cipta manusia? Jadi teknologi informasi menjadi sarana untuk manusia dalam mengembangkan dirinya untuk menghadapi perubahan-perubahan secara cepat. Bukan sebaliknya, manusia sebagai alat dari teknologi komunikasi sehingga manusia itu sekedar menjadi pelaksana dari teknologi itu sendiri. Kalau demikian halnya, maka terjadilah proses dehumanisasi di dalam proses belajar dan proses pemanusiaan. Semuanya serba otomotis tanpa perasaan, tanpa kegalauan dan tanpa apresiasi keindahan.

Revolusiteknologidengan demikian tidak membawa manusiahidup dalam suatu dunia yang digambarkan olehGeorge Orwell (1984) dimana kebebasan individu menghilang di bawah kontrol “the big brother” yang memata-matai gerak-gerak manusia yang tidak mengenal lagi dunia privat.

Di dalam revolusi teknologi terjadi apa yang disebut kompresi waktu dan ruang. Hal ini berarti kehidupan berjalan serba cepat bahkan penuh persaingan. Freidmen mengatakan bahwa dunia tidak lagi bulat, tetapi dunia yang rata. Hal ini berarti segala sesuatu berjalan menjadi transparan, yang membuka kesempatan yang sama kepada semua orang.

  1. Perubahan Pribadi

Apabila lingkungan kita berubah dengan cepat meminta yang sama dari sikap pribadi yang hidup dalam lingkungan tersebut. Kontradiksi sikap yang timbul akan mengantar manusia yang tidak kreatif dan kontrproduktif bisa berakhir perusakan likungan. Menghadapi perubahan lingkungan yang cepat diperlukan pribadi yang pro aktif.

Kemampuan adaptif berarti kemampuan memilih atau selektif terhadap hal yang positif maupun negatif pada habitat seseorang. Sikap adaptif yang selektif terhadap perubahan berarti pula kemampuan berpartisipasi di dalam perubahan yang terjadi. Manusia di era globalisasi bukanlah manusia yang bertindak kontemplatif tetapi “man of action”, manusia yang bertindak. Dengan demikian perubahan yang terjadi akan merupakan perubahan yang terarah oleh nilai-nilai kemanusiaan (human values).

Di dalam sikap partisipatif yang positif itu jelas proses pendidikan, bukanlah merupakan suatu proses pengisian botol kosong atau yang seperti dikemukakan oleh Paulo Freire sebagai proses seperti dalam sistem perbankan (banking system) dalam arti penguasaan subject matter sebanyak-banyaknya.

Pendidikan bukan merupakan suatu proses yang menyuguhkan kompetensi-kompetensi tertentu yang belum tentu dapat dimanfaatkan dalam memecahkan masalh kehiduan yang mana kehidupan selalu mengalami perubahan. Yang benar adalah adalah lembaga pendidikan yang bertujuan mempersiapkan pribadi-pribadi yang siapbelajar dengan partisipasi di dalam kehidupan. Proses belajar mengajar merupakan proses yang berkesinambungan  atao long lifes education.

  1. Perubahan di dalam Organisasi

Lembaga pendidikan atau sekolah merupakan suatu lembaga sosial formal dimana terjadi proses pendidikan. Sekolah merupakan suatu organisasi. Setiap organisasi atau lembaga sosial mempunyai struktur organisasi, fungsi, dan kepemimpinan sendiri. Secara keseluruhan suatu organisasi sosial hanya dapat berfungsi apabila dia menjawab kebutuhan yang diharapkan oleh masyarakat dari lembaga sosial itu berada.

Sekolah biasanya merupakan suatu culture lag di dalam masyarakat. Hal ini disebabkan karena sekolah dianggap sebagai lembaga dimana terjadi transfer kubudayaan dari satu generasi ke generasi sesudahnya, dengan kata lain sekolah merupakan sarana kesinambungan suatu masyarakat. Menghadapi perubahan, sekolah harus membuka diri dari perubahan-perubahan yang terjadi bahkan lembaga tersebut harus menjadi pelopor perubahan itu sendiri. Ini diperlukan agar terjadi akselerasi perubahan yang antisipatif dan pro aktif.

Lembaga pendidikan yang adaptif terhadap perubahan masyarakat pertama haruslah berada di dalam arus perubahan masyarakat itu sendiri. Lembaga sekolah bukannya menjadi penghalang, tetapi merupakan laboratorium perubahan itu sendiri. Peserta didik yang ada di dalamnya mesti ekuivalen dengan perubahan sekolah dan masyarakat sehingga perlu ditanamkan sikap yang kreatif dan transformatif di dalam masa pengembangannya.

Inilah lembaga pendidikan yang progresif yang bukan menantang globalisasi tetapi menerima secara refleksif perubahan dalam masyarakat dan mengarahkannya demi meningkatkan taraf hidup anggota masyarakatnya. Lembaga pendidikan yang demikian berarti milik masyarakat yang dinamis. Masyarakat yang berubah memiliki atau menjadi shareholder dari lembaga pendidikannya dan terciptalah kondisi pengembangan kreativitas serta kerja sama positif peserta didik di dalam mengembangkan berbagai kompetensi yang diantisipasikan dituntut di dalam perubahan masyarakat masa depan.

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dari pemaparan tinjauan strategis dari perspektif pedagogik transformator dapat disimpulkan bahwa.

  1. Pedagogik transformatif bukan hanya terfokus kepada peserta didik an sich tetapi kepada peserta didik dalam habitus budayanya yang “terus menerus menjadi”. Peserta didik dan budayanya akan berkembang dan terarah pada kehidupan bersama yang penuh tantangan karena terus-menerusberubah dengan cepat.
  2. Pedagogik transformatif  menghadapi perubahan yang senatiasa mengacu dalam 3 hal, yaitu.

a)      Perubahan teknologi,

b)      Perubahan pribadi dalam menghadapi perubahan teknologi tersebut,

c)      Perubahan di dalam organisasi.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

v   Freire, Paulo. 1985. The Politics of education. Connecticut: Bergin& Garvey.

v   Ohmae, Kenichi. 2005. The Next Global Stage. New Jersey: Wharton School Publishing.

v   Tilaar, H.A.R. 2005. Manifesto Pendidikan Nasional. Jakarta: Penerbit Buku Kompas

 

 

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 6 pengikut lainnya

  •  
    %d blogger menyukai ini: