RSS

Kitab Suci Dewa Er Lang Sen

09 Nov

ER LANG SHEN ZHEN JING

Kitab Suci Dewa Er Lang Sen

Tao timbul dari arus kejujuran yang agung dan mulia. Dari alamiah, asal alamiah. Menuntun seluruh manusia ke jalan yang benar di dunia. Cahaya kedewaan menyilaukan mata menyinari ujung kepala kita. Ucapan dan perbuatan haruslah benar, sopan, hingga tidak bersalah. Jalan ada yang simpang tiga. Pedang ada yang berujung tiga pula. Belajar Tao, Memuja Tao, dilindungi, disayangi. Setan Jin dan Iblis diusir, disingkirkan. Membela Tao, menjunjung tinggi Tao, tidak gembar-gemborkan jasa, jasanya sudah dicatat Tuhan (Thian). Kebenaran atau kejahatan, Dewa-Dewa mengetahuinya. Membawa pedang di atas awan, meninjau tiga alam itu; tidak lain ialah melihat sejauh mungkin, meneliti hati nurani manusia. Ini cara memupuk Tao, memupuk Tao yang tidak tertara, menolong manusia yang tidak terjumlah. Di dunia, siapa yang menyebarluaskan Tao, disayangi, dikaruniai, sudah logis nyata. Memfitnah Tao, merusak Tao, meskipun hendak diampuni, sukar juga. Ini boleh dikatakan hukum karma! Sempurnakan diri siapakah tidak senang hati? Mengerti diri dan mengertikan lainnya, saya kagumi; Menindas dan berbuat jahat, saya larang keras. Aneka cara ditunggal ika kan, tidak lain ialah Thay Cik; Wu Cik. Dapat Tao (kesempurnaan) adalah Dewa-Dewa. Fitnah Tao adalah iblis. Dapat mengerti demikian, tentu tidak terjerumus ke simpang jalan yang salah dan tidak tersesat lagi. Matahari dan rembulan ada “penuh” dan “sabit” nya. Nasib manusia ada pasang surut juga. Meskipun ini adalah takdir, tetapi yang berbudi, yang baik hati, yang belajar Tao, yang mengerti Tao, ketika nasib malang, sialnya dikurangi setengah, ketika nasib jaya, rejeki ditambah empat sampai lima bagian. Sembahyanglah dengan Hio sujud di atas kepala, serta beramal dan budi cukup sudah. Dewa piket mencatat jasa dan dosa, satu balas satu silih berganti. Seperti ada; seperti tidak ada; merupakan nyata, merupakan gelap gulita. Sayang! Banyak manusianya; tetapi jarang yang bisa sadar (Wu), hingga terperosok ke dalam rawa-rawa bahaya, dengan jeritan belaka. Jika dapat mengerti diri, mawas diri, dan Wu Tao (tinggi kesadarannya). Lepas dari laut sengsara, keluar dari kebingungan; jalan lapang sudah terlihat di depan mata. Fu De Zheng Shen Zhen Jing

Kitab Suci Fu De Zheng Shen [Kitab Suci Fuk Tek Cen Sen] (Terjemahan dari terbitan bahasa Mandarin pada tahun 1866) Rejeki ( ) asalnya diberi Tuhan (Tian), Moral ( ) timbulnya dari sanubari manusia. Jujurkan diri dan lainnya, harus spontan semua. Tanah luar, remang-remang. Nasib banyak godaan. Ini disebabkan apa? Segalanya sudah takdir, nasib seumur hidup pun diatur sedemikian rupa, yang tahu hanyalah Dewa-Dewa. Memohon-mohon apakah pasti dikabulkan? Bahaya dan bahagia apakah karena kelakuan dirinya? Jadi jutawan, hidupnya bahagia, semua disebabkan masa lampaunya, tetapi sayang sekali kalau tidak berbudi hati malapetaka pun akan membuntuti. Yang berdasarkan memohon, bersujud, hingga diterima jadi Dewa dari dahulu jarang ada. Sayang seribu sayang, mengapa kesadaran manusia demikian tipis? Yang dimaksud Siu Tao ialah mempertebal kebudian, memperkuat rohaniah dan jasmaniah, juga memupuk jasa-jasa. Jadi yang sudah Siu Tao harapan jadi Dewa-pun masih sukar juga. Dewa dalam kelenteng-kelenteng semuanya adalah Agung dan Mulia, penganut-penganutnya harus mantap hati dan tebal iman. Yang sembahyang semua akan dapat rejeki, pemberian dengan cuma-cuma. Kalau memang dapat melihat (berjumpa) itu sudah lain soalnya, karunia dan kegaiban selalu diberikan kepada yang kejodohannya besar saja. Belajar tidak membedakan siapa pun dahulu dan siapa belakangan, hanya yang sukseslah dapat jadi pimpinan. Hitunglah dari jaman ke jaman berapakah pahlawan-pahlawan / pemuka-pemuka yang dapat mengerti dengan benar maksud inti masuk ke dunia dan keluar dari dunia, hingga melampaui sesamanya, jadi wali-wali atau Dewa-Dewa? Sedikit sadar, sedikit faedah. Banyak sadar, banyak kebaikan. Tidak mau sadar, tidak ada obat penolongnya. Jaman berubah-ubah, dosa menimpa-nimpa. Hanya yang sadarlah (Wu Tao) dapat lepas dari sengsara, lepas dari ketenggelaman! Manusia yang berbaik hati Dewa-Dewa akan menyayangi, yang berbejat budi akan bingung dan dibenci. Terlalu longgar / bebas harus dikendalikan, seperti sinar terang menyilaukan mata dikurangi sedikit terangnya. Terlalu menekan diri harus bebas sedikit, seperti dikurung mendung harus ada cahaya-cahaya. Tai Shang Lao Jun Zhen Jing ________________________________________ Kitab Suci Tai Shang Lao Jun [Kitab Suci Thay Sang Lauw Cin] (1/14) 1. Sang Dewa tertua pertama. Disebut-sebut Thay Sang Lauw Cin namanya. Berkali-kali turun ke dunia. Menciptakan Tao yang jujur menjadi aliran utama. 2. Mula-mula beliau menjadi Ban Ku She si pembuka dunia. Kemudian menjadi Hwang Tee raja ksatria. Kemudian menjadi professor Lau Tze ahli filsafat. Seterusnya makmur dan berkembanglah Tao dimana-mana. 3. Tao adalah Tao yang tertinggi. Agung adalah yang teragung diagungi. Penolong manusia dan penyelamat duniawi. Semua aliran layak menjunjung tinggi. 4. Setiap manusia memakai Tao (aturan-aturan) sehari-hari. Banyak terdapat ilmu pengetahuan yang tinggi ditengah-tengah yang berarti. Dewa-Dewa dan Budha-Budha adalah satu inti. Karena dapat Tao (jasa-jasa) manusia menghormati. 5. Para guru besar mementingkan keberadaban dan kebudian. Budi pekerti dengan Tao erat bergabungan. Asal Yin Yang timbul dari Wu Cik (out of which) luar bilangan. Wu Cik adalah sama dengan Thay Cik (the absolute) tak terbataskan. 6. Thay Cik (the absolute) adalah permulaan langit bumi belaka. Abstrak kongkrit saling jelma menjelma. Tumbuh musnah hanya mengikuti kodrat alam dan spirit yang tak nyata (skilful contrivance).

Keseluruhan menjadi tak ada batasnya. (2/14) 1. Tombak dan tameng adalah lawan. Semua jenis benda dapat disatukan. Diam mencapai titik terakhir timbul gerakan-gerakan. Gerak diam adalah prinsip Yin Yang. 2. Teori ilmiah sering berselisih berlawanan. Dapatlah dibahas dengan teori Yin Yang. Kekuatan (power) Tao tak ada taranya. Sehatkan badan berdasarkan cara keDewaan (Divine art). 3. Berkesempatan belajar cara latihan keDewaan (Divine art). Anggota badan oleh Dewa-Dewa digerak-gerakkan. Darah mengalir teratur dalam saluran-saluran. Lama berlatih semua lancar tak ada yang tersumbatkan. 4. Tiap manusia dapat mempelajarinya. Kata-kata murni (Cen Yen) daya tarik berguna. Dewa-Dewa datang membantu anda. Ide belas kasih harus tetap berada. 5. Para Dewa dan Budha mendapat Tao-nya (tingkatannya). Thay Sang Lauw Cin yang meneliti / menilai jasa-jasa. Kekuatan Dewa-Dewa tak ada batasnya. Mohon kepada Dewa dapatlah makmur jaya. 6. Siu Tao (bertapa / mendekati Dewa) langkah pertama. Belajarlah dulu cara pembukaannya (Tao Ying Suk). Daya gaib menguatkan urat-urat didalam tubuh manusia. Setelah badan sehat baru memuncak kepernapasannya (breathing exercise). (3/14) 1. Kata-kata dan kelakuan-kelakuan mengikuti kebenaran. Dunia sebetulnya kepunyaan sesama. Hindarkanlah bertengkar serahkanlah segalanya kepada Yang Kuasa. Dunia sudah lama damai dan makmur jaya. 2. Semua manusia harus belajar Tao (cara mencari dan mendekati Dewa). Mentaati hukum dan peraturan-peraturan akan timbul dalam sanubari anda. Hemat dan giat bekerja utamakan rumah tangga. Berfoya-foya tidak aturan jasa tidak akan ada. 3. Linglung malas menggunakan pikiran. Bagaimana dapat belas kasih oleh Dewa-Dewa. Dewa-Dewa semuanya adalah agung mulia. Semua bergabung dalam lingkaran Thay Cik (absolute) bermula. 4. Diluar langit-langit ke tiga puluh tiga. Megah perkasa sebagai istana-istana mulia (Tao Sway Kung). Maha Dewa Thay Sang Lauw Cin menempatinya. Menunjukkan kekuatan Dewa-Dewa (power of divine) yang tiada tara. 5. Siu Tao (cari jalan mendekati Dewa), yang utama adalah cara pembukaannya (Tao Ying Suk). Latihan-latihan dibagi jenis dalam dan luar. Bersemedi datangkan ketentraman dan kecerdasan. Seluruh badan dikelilingi kekuatan yang tak terbayang (constitution). 6. Spiritual dan material. Dua-duanya sama dipentingkan. Mengerti diri juga lainnya dimengertikan. Hingga menginjak taraf yang tinggi puncak lapisan. (4/14) 1. Siu Tao (menemukan jalan yang benar) harus mengerti apa yang baik dan dijalani. Ketemu jalan berarti peraturan-peraturan dan hukum-hukum yang berlaku sudah dimengerti. Mengerti itulah pedoman semula Tao. Belajar Tao barulah tidak sesat lagi. 2. Abstrak sebetulnya adalah kongkrit yang merupakan abstrak saja. Kehidupan sehari-hari harus mengikuti yang lazim dan biasa. Abstrak-abstrak menjelma-jelma akan menjadi kongkrit juga. Tidak berbuat berarti tidak tidak berbuat artinya. 3. Tao menguasai kongkrit dan abstrak. Kaum cerdas dipandang seperti kebodoh-bodohan. Kekuatan (Power) Tao tidak terbataskan. Tao yang jujur mengandung kebenaran-kebenaran. 4. Roh-roh jahat tak akan berani terhadap kejujuran. Menghadap Tao yang tinggi roh-roh jahat jadi berantakan. Tao yang jujur diumpamakan lautan-lautan. Semua aliran mengalir ke laut akhir tujuan. 5. Sedikit sajalah persoalkan nama dan benda. Yang penting adalah keuletan dan keyakinan. Menyendiri akan banyak derita dan sengsara. Hidup begitu terang tak normal juga. 6. Mengerti ajaran Tao keluarlah dari kebingungan. Betul tetap betul jangan disalah-salahkan. Belajar Tao tak ada simpang jalannya. Kemantapan hatilah yang menjadi pegangan. (5/14) Derita sakit disertai sengsara. Harus cari dokter dan mohon kepada Dewa-Dewa. Kebodohan hingga menelan abu Yu Sua (Siang Hwe). Tak luput jadi tawaan belaka.

1. Mohon kepada Maha Dewa untuk mengusir roh-roh jahat. Derita sakit haruslah memakai obat. Takdir itu ternyata memang ada. Budi hati dapat sedikit merubah.

2. Menurut jasa-jasa anda dapat merubah rejeki. Timbul karena hati wajah berseri-seri. Asalnya bukan turun-temurun kedudukan atau pangkat tinggi. Pikiran jujur dan baik budi selalu terpendam dalam hati.

3. Tak satupun benda yang tak mengandung Yin Yang (dualisme). Sian Li (abstruse principles / arti mendalam) adalah Philosophy. Maksud keDewaan dan manusianya menjadi satu. KeDewaan (theology) merangkap ilmu pengetahuan (science).

4. Kera besar (Anthropoid Apes) kuno kebetulan ada yang pandai luar biasa. Lama mencari jalan dapat petunjuk Dewa-Dewa. Muncullah manusia pertama menjalani Tao sesama. Berevolusi terus hingga jaman terakhir mengikuti langkah-langkah.

5. Pelihara badan tak ada rahasianya. Penghidupan terus maju terus bergairah. Siu Tao bahagia laksana Dewa-Dewa. Kembalilah cepat-cepat yang tersesat dijalan-jalan bahaya. (6/14) 1.

Tao adalah sesuatu yang nyata (kongkrit). Dikatakan abstrak sukar untuk menerimanya. Tiap manusia menghendaki kaya raya. Siu Tao akan lepas dari jurang sengsara. 2. Siu Tao tak mengerti apa sebenarnya Tao. Seumur hidup pun akan nihil belaka. Dimanakah Dewa-Dewa berada? Antara jarak tiga meter diatas kepala. 3. Anda dapat memohon datangnya Dewa-Dewa. Dapat mengupas kesulitan-kesulitan yang ada. Rejeki-rejeki Maha Kuasa yang memberikannya. Mengapa harus bersembunyi di dalam gua-gua. 4. Siu Tao tidak memelihara badannya. Dewa-Dewa pun melihat jadi kecewa. Didalam gua-gua tidak bersembunyi Dewa-Dewa. Selalu berbudi akan tinggi jasa. 5. Siu Tao mencapai tingkat tinggi dapat kegaiban. Sesuatu keanehan atau keunggulan akan luar biasa. Mencari harta benda tempuhlah jalan kebenaran. Belajar Tao utamakan kebaktian. 6. Tingkatkanlah kesehatan jasmani dan rohani. Dua-duanya prihatin panjang usia terjadi. Mohon (sembahyang) kepada Maha Dewa maju selangkah lagi. Siu Tao patut ada kejodohan (affinity) mendekat lebih-lebih. (7/14) 1. Dewa – Dewa dan Budha – Budha rupawan semua. Haruslah diteliti keagungan dan kemuliaannya. Menggambar melukis jadi jelek rupa tak sedap dipandang mata. Berarti menodai tentu akan berdosa. 2. Anak cucu berbuat kebajikan dan berjasa. Nenek moyang selalu bergembira. Foya-foya membakar rumah-rumahan kertas (Ling Wuk) apa gunanya. Karena bodoh dan tak ada pengertian belaka. 3. Kesabaran dan kelakuan baik merupakan kebajikan (amal bakti). Telitilah segala secermat-cermatnya. Tunduk kepada orang tua haruslah dimasa muda. Bibit baik adalah sumber baik juga. 4. Belajar Tao dibagi dalam tahap ke tahap. Carilah guru mempelajari cara pembukaannya (Tao Ying Suk). Tak mendapatkan guru menempuh jalan kedua. Cara semedi dipakai terpaksa. 5. Rohani, jasmani dan pikiran tiga bersatu. Pendidik penggerak berpadu. Sukma asli mendapatkan tenaga gaib gayu. Roh jahat tak bisa menembus selubung baju. 6. Hidup itu adalah bersaingan. Ketentuan-ketentuan dan kuasa (destiny) tiap hari membaru. Tidaklah negatif bila Siu Tao (belajar ilmu Tao). Negatif akan menyesatkan rakyat seluruh. (8/14) 1. Siu Tao mempelajari kekuatan gaib (divine art). Menolong manusia keluar dari kesesatan. Menghina merusak mendatangkan malapetaka. Sembarang bicara adalah setengah gila. 2. Kekuatan gaib (divine art) diumpamakan kekuatan listrik. Mata biasa tak dapat memandang wujudnya. Membuktikan cukup dengan cara pembukaannya (Tao Ying Suk). Semua manusia mempunyai hasrat belajar ilmu kedewaan. (divine art Tao). 3. Dapat mengetahui kejadian-kejadian di dunia. Dewa-Dewa tak perlu memperhatikan bentuk kongkrit dirinya. Siu Tao belajar kekuatan Tao Fak (divine power). Rejeki akan mengungguli sesama. 4. Di sorga ada peraturan-peraturan sorga. Manusia ada takdirnya. Ketemu cara mendekati Dewa-Dewa (Tao). Nasib yang keruh dapat jernih juga. 5. Kaya raya seperti sekuntum bunga. Angin salju tak mengerti apa-apa. Bunga mekar ada waktu-waktunya. Belajar Tao, mohon kepada Dewa-Dewa barulah akan selamat selamanya. 6. Kehidupan seperti biasa saja. Giatlah jadi manusia yang berguna. Rumah susun tinggi mula-mula dari dataran juga. Siu Tao dapat menenangkan pikiran anda. (9/14) 1. Kelenteng-kelenteng adalah pos-pos jalan Dewa-Dewa. Harus singkat dan hikmat upacara-upacara. Memohon berdasarkan kemantapan hati anda. Sedikit barang sembahyangnya juga berfaedah. 2. Adu kaya memakai Hio dan lilin-lilin besar segajah. Lebih baik berbuatlah amal kepada yang menderita. Sembahyang menyajikan ikan dan daging diatas meja. Tanda tidak mengerti apa kehendak para Dewa dan Budha. 3. Si penjaga kelenteng harus mengerti Tao (aturan-aturan / pengertian tentang Dewa-Dewa). Jangan sembarang bicara menyesatkan tamu-tamunya. Apalagi memakai nama Dewa-Dewa. Berbicara tanpa pikir adalah ngawur belaka. 4. Ide budi beramal selalu dalam hati. Para Dewa dan Budha tentu menyenangi. Manusia mengejar kedudukan, umur panjang dan rejeki. Maha Dewalah yang paling welas asih. 5. Siu Tao mengikuti peraturan-peraturan yang layak sehari-hari. Rintangan akan berkurang untuk semua pekerjaan diri sendiri. Dapat mengetahui tiga kehidupan lampau, sekarang dan kemudian hari. Merubah nasibpun jalannya akan diberi. 6. Diatas landasan yang kongkrit Tao berdiri. Ide kosong jauh dari arti inti sari. Arti yang mendalam bukannya sukar dimengerti. Salah menerima (salah tangkap) adalah kurang rendah hati. (10/14) 1. Belajar Tao berguna untuk semua manusia. Sukma-sukma asli akan naik ke sorga. Dewa-Dewa yang menilai jasa dan dosa. Jasanya yang tinggi ditingkatkan jadi Dewa juga. 2. Tak berarti lagi berbuat yang aneh-aneh (to release soul from suffering) untuk para almarhum dan almarhumah. Jasa-jasa semuanya dilihat masa hidupnya. Nenek moyang yang pernah Siu Tao ada yang jadi Dewa. Anak cucu akan banyak rejekinya. 3. Anak cucu berbuat budi dan amal. Jasa-jasa melebihi bertobat-tobat dan menyesal-nyesal. Nenek moyang dapat meringankan kesalahan. Jasanya bertambah akan dapat meningkat menjadi Dewa berawal. 4. Yang menentukan tingkat Dewa-Dewa adalah Yi Hwang Ta Tee (Thian Kung) Dewa Agung. Dewa tetaplah Dewa, Agung tetaplah Agung. Ada lagi Budha-Budha dan Busak-Busak. Mendapat Tao (tingkatan) juga dapat duduk di istana sorga yang bergabung. 5. Menyebar luaskan ajaran-ajaran Tao. Sekeluarga akan selamat dan banyak rejeki. Soal panjang pendek usia yang dikehendaki. Siu Tao lah dapat merubah menurut kondisi. 6. Usia panjang Dewa Usia (Sou Sing Kung) yang memberi. Semua karena sehat rohani dan jasmani. Menjalani Tao rejeki dan kedudukan menyertai. Sukma asli akan hidup abadi (eternal life). (11/14) 1. Sandang pangan dengan pondokan dan jalan. Tak dapat dihindari dalam keduniawian. Rajin dan hemat pokok penghidupan. Berkembang biak anak cucu baik-baik seluruh turunan. 2. Akan subur sabar keluarga. Jahat dan kejam sukar bekerja. Menolong orang dahulukan menolong dirinya. Menyebar Tao adalah taman bahagia. 3. Tao bukan memandang matahari dan rembulan. Matahari dan rembulan hanya benda alam saja. Dalam tubuh manusia bersembunyi sukma-sukma. Bagaikan manusia menghuni rumah-rumah. 4. Badan diumpamakan rumah. Sedikit demi sedikit tambal dan jagalah supaya tetap kuat. Tiap hari latihan gerak badan Tao (divine art). Mencapai usia lanjut bukan apa-apa. 5. Pembawaan dapat mendengar suara Dewa-Dewa. Lingkaran kecil melingkar menjadi besar. Pembawaan mata gaib penglihatan. Ribuan kilometer tak ada halangan. 6. Semua pekerjaan diayomi Dewa-Dewa. Penghidupan tak akan sengsara. Hidup manusia ada jalan yang lapang juga. Siu Tao dapat memperpanjang usia. (12/14) 1. Jaga kesehatan bagian dalam diutamakan. Kelebihan gizi dan lemak mudah menimbulkan penyakit jadi siksaan. Hari ulang tahun masing-masing tak makan daging-dagingan. Tahun ke tahun dilalui dengan gampang. 2. Makan minum secara sederhana. Lebih baik daripada banyak daging dan lemaknya. Perhatikan vitamin-vitamin dan mineral-mineral secukupnya. Tahan uji tahan lama daya bekerja. 3. Perumahan harus dalam keadaan bersih. Sinar matahari dan hawa sejuk harus mencukupi. Tidur malam hanya beberapa meter persegi. Kerja dan istirahat janganlah melampaui batas aturlah sendiri. 4. Hati-hatilah berbicara dan cerdaslah berpikir. Tiap-tiap pekerjaan sudah dibagi mendetil. Kesalahan sedikitpun akan luas akibatnya tak berakhir. Bersainglah cepat-cepat jangan terlambat dan terkucil. 5. Sopan santun (gentle) tak bergara-gara. Dengan sungguh-sungguh giat bekerja saja. Hati mantap mendapatkan lindungan Dewa-Dewa. Tak terletak pada banyaknya Hio atau lilin-lilinnya. 6. Siu Tao (semedi) menenangkan hati sanubari anda. Gerak diam jangan terlalu kelewat batasnya. Mengerti Tao (peraturan-peraturan) digemari sesama. Cepat-cepat jangan ragu hingga lewat saatnya. (13/14) 1. Ajaib sungguh cara latih badan Thay Sang Lauw Cin Maha Dewa. Menyehatkan badan sungguh gaib hasil-hasilnya. Luar biasa mengherankan dunia. Badan sehat menambah sehat pikiran pula. 2. Keuletan dapat mengalahkan kekerasan. Ulet dan keras harus diseimbangkan. Keras barulah memakai kekerasan. Menghadapi segala haruslah memakai akal pikiran. 3. Betul adalah tetap betul. Salah adalah tetap salah. Bandel dimusuhkan bandel pula. Aturan dihadapi aturan saja. 4. Membanggakan diri sering datangkan rugi. Merendahkan diri tak hilang apapun sejari. Kalau pandai jangan menonjol-nonjolkan diri. Yang pandai ilmu tinggi biasanya seperti terendah tak kuat berdiri. 5. Seperti roda-roda berputar semuanya dalam dunia ini. Penuh-penuh, kosong-kosong, teratur sendiri-sendiri. Yang tak beraturan lebih rendah daripada yang tinggi. Yang ngawur akan layu lenyap tak tahan uji. 6. Kekerasan adalah tetap kekerasan (kekuasaan). Peraturan adalah tetap peraturan. Peraturan didampingi kekuasaan. Cerdaslah yang paling ampuh menguasai peranan. (14/14) 1. Harus duduk bersila waktu berlatihnya. Belajar Tao mumpung masih muda belia. Tiap hari latihan divine art Dewa-Dewa (Thay Shang Sen Kung). Tak berpenyakit ringan badan anda. 2. Hidup selalu banyak rintangan. Dapat berpikir adalah bawaan manusia. Bebas duniawi berarti sudah habis nyawanya. Mengerti Tao buah pikiran terbuka. 3. Banyak rintangan usaha-usaha. Buanglah kecemasan dan nyanyikanlah lagu-lagu Tao saja. Belajar hingga dapat berdialog dengan Dewa-Dewa. Dewa-Dewa tentu lebih perhatian padanya. 4. Hidup dikarenakan bernyawa. Latihan Tao (divine art) untuk lindungi anda. Sehatkanlah badan dan sayangilah nyawa. Manusia harus memperhatikan rohaniah dan jasmaniah. 5. Sehari tiga kali santapan hanya karena ingin kenyang saja. Pesiar melihat-lihat tambah pengetahuan baru yang berguna. Mode baju karena jaman dapat dirombak ubah. Asal masuk diakal boleh saja diperbaharui. 6. Sebatang Hio lambang selamat jaya. Menghadap Dewa sujudlah diatas kepala. Menghadap lainnya didepan dahi dan didepan dada. Dua tangan sungkem didepan atau satu saja terang cara-caranya.

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada 11/09/2011 in Filsafat

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya.

  •  
    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    %d bloggers like this: