RSS

Pengertian Pendidikan, mendidik, pembelajaran,& mengajar

07 Nov

Jika kita setuju dengan tesis dari Samuel P.Huntington tentang Clash of Civilization, maka yang akan kita hadapi dengan istilah globalisasi adalah interaksi budaya global dengan sekat-sekat yang hampir tidak dapat membendungnya. Huntington menjadikan indentitas budaya dan peradaban sebagai persoalan penting dalam kehidupan manusia yang kini telah mengalami globalisasi. (Samuel P.Huntington dalam H.A.Malik Fajar, 2005: 170). Dalam wacana keindonesian, tesis Huntington ini perlu dicermati mengingat bahwa Indonesia adalah negara kepulauan dengan keragaman budaya dan masyarakat yang sangat kaya. Huntington menegaskan bahwa persoalan yang dihadapi adalah terjadinya konflik di sepanjang garis pemisah budaya (culture fault lines) . Dalam kasus Indonesia sering muncul dalam istilah “konflik berbau SARA”.
Setuju atau tidak setuju dengan tesis Huntington, kenyataan menunjukkan bahwa sebahagian tesis tesebut terbukti, dimana konflik-konflik horisontal sering muncul karena adanya diferensiasi budaya, sejarah dan bahkan agama. Khusus yang terakhir, Huntington, menurut Malik Fajar, percaya bahwa agama telah menimbulkan konflik selama berabad-abad . Masalahnya kemudian adalah bahwa arus utama globalisasi terkait sangat erat dengan budaya dan masyarakat. Lalu Apa yang harus dilakukan?

Persoalan real yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah bagaimana membentuk karakter bangsa (Nation Character Building) yang kaya akan nilai-nilai kearifan lokal dan tradisional berhadapan dengan pusaran arus globalisasi yang demikian mengancam. Bagaimanapun juga khazanah keragaman budaya dan heterogenitas masyarakat Indonesia, di satu sisi merupakan keistimewaan namun di sisi lain menimbulkan kekhawatiran. Dalam diskursus pendidikan, hal tersebut harus dibahas, dan tidak dapat diabaikan begitu saja.

Dalam kesempatan ini, akan kita uraikan beberapa defenisi tentang pendidikan dan diferensial dari pendidikan itu sendiri, seperti mendidik, pembelajaran, dan mengajar. Keberadaan pendidikan tidak bisa dipisahkan dengan beberapa diferensialnya, bahkan keberlanjutan pendidikan sebagai usaha sadar mesti terwejantahkan dalam beberapa sub proses. Untuk menerjemahkan secara ilmiah, penyusunan tulisan ini di desain dengan memberikan ruang yang sama kepada setiap kata (pendidikan, mendidik, pembelajaran, dan mengajar) dan dikonstruk dari berbagai sumber yang relevan dan terkini.

  1. PENDIDIKAN

Education is not preparation for life; education is life itself“ -John Dewey

Pendidikan sebagai kebutuhan pokok manusia tentu akan mengalami sebuah perkembangan, baik dari segi system maupun penjabaran teknis maupun strateginya, apalagi teknologinya. Bukan lagi hal yang panjang untuk diperdebatkan akan ekuivalensi pendidikan dengan peradaban.

Mengenai pengertian pendidikan, akan banyak perdebatan tentang pengertiannya. Hal ini memungkin karena pendidikan masih tergantung dengan paradigm bahkan ideology yang dimiliki oleh pencetus defenisi itu. Sebagai contoh, beberapa tokoh pendidikan menguraikan pengertian pendidikan berdasarkan ideology yang mengakar dalam kehidupannya, sebut saja John Dewey.

Seperti yang diuraikan oleh Roni Syarif H (http://www.scribd.com/Definisi-Pendidikan-Menurut-Para-Ahli.htm) bahwa pendidikan diuraikan oleh beberapa ahli seperti, Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan adalah segala daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya, Darmaningtyas mengartikan pendidikan adalah usaha dasar dan sistematis untuk mencapai taraf hidup dan kemajuan yang ledih baik, Paulo Freire mengartikan pendidikan merupakan jalan menuju pembebasan yang permanen dan terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah masa di mana manusia menjadi sadar akan pembebasan mereka, yang melalui praksis mengubah keadaan itu. Tahap kedua dibangun atas tahap yang pertama, dan merupakan sebuah proses tindakan kultural yang membebaskan, John Dewey mengartikan pendidikan adalah suatu proses pembaharuan makna pengalaman, hal ini mungkin akan terjadi di dalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda, mungkin pula terjadi secara sengaja dan dilembagakan untuk menghasilkan kesinambungan social. Proses ini melibatkan pengawasan dan perkembangan dari orang yang belum dewasa dan kelompok di mana dia hidup.

Masih dalam tulisan blog yang sama H. Horne mengartikan pendidikan adalah proses yang terus-menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada tuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia, Frederick J. Mc Donald mengartikan pendidikan adalah suatu proses atau kegiatan yang diarahkan untuk merubah tabiat. Ahmad D. Marimba mengartikan pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Djayakarta mengartikan pendidikan adalah memanusiakan manusia muda, maksudnya pengangkatan manusia muda ke tahap insani. Inilah yang menjelma dalam semua perbuatan mendidik. Sir Godfrey Thomson mengartikan pendidikan adalah pengaruh lingkungan atas individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang permanent di dalam kebiasaan-kebiasaan tingkah lakun, pikiran, dam sifatnya.

Bahkan dalam forum diskusi milik Darsana Setiawan (http://diskusipendidikan.forumotion.com/t4-pengertian-pendidikan-dan-pengajaran.htm) setidaknya ada tiga pengertian yang berbeda, yakni pendidikan merupakan upaya nyata untuk memfasilitasi individu lain, dalam mencapai kemandirian serta kematangan mentalnya sehingga dapat survive di dalam kompetisi kehidupannya. Pendidikan adalah pengaruh bimbingan dan arahan dari orang dewasa kepada orang lain, untuk menuju kearah kedewasaan, kemandirian serta kematangan mentalnya. Pendidikan merupakan aktivitas untuk melayani orang lain dalam mengeksplorasi segenap potensi dirinya, sehingga terjadi proses perkembangan kemanusiaannya agar mampu berkompetisi di dalam lingkup kehidupannya (Insan Cerdas dan Kompetitif).

Dalam buku manajemen pendidikan yang disusun oleh Tim Dosen Administrasi Pendidikan UPI diuraikan pengertian pendidikan sebagai berikut

“Esensi dari pendidikan itu sebenarnya ialah pengalihan (transmisi) kebudayaan (ilmu pengetahuan, teknologi, ide-ide, dan nilai-nilai spiritual serta estetika) dari generasi yang lebih tua kepada generasi yang lebih muda dalam setiap masyarakat atau bangsa” (2009:11)

Masih dalam buku yang sama pengertian pendidikan lebih diperdalam lagi dengan menguraikan hakikat pendidikan bahwa pendidikan merupakan proses interaksi manusiawi yang ditandai keseimbangan antara kedaulatan subjek didik dengan kewibawaan pendidik dalam rangka penyiapan subjek didik menghadapi lingkungan yang mengalami perubahan yang semakin pesat dan meningkatkan kualitas hidup pribadi dan masyarakat yang berlansung seumu hidup (2009:12).

Berbeda dengan Suryosburoto (2010:9) memberikan batasan pengertian pendidikan sebagai suatu kegiatan yang sadar akan tujuan dimana tujuan pendidikan dalam rangka membawa anak kearah tingkat kedewasaan.

Menurut Henderson dalam Sadulloh (2010:5), pendidikan merupakan suatu proses pertumbuhan dan perkembangan, sebagai hasil interakasi individu dengan lingkungan social dan lingkungan fisik, berlansung sepanjang hayat sejak manusia lahir.

Lain halnya dengan Coser at all dalam Hasbullah (2009:9) mengungkapkan “Education is the deliberate, formal transfer of knowledge, skill and values from person to another”. Sementara Webster dalam Hasbullah (2009:9) juga mengungkapkan “Education is the process of training and developing the knowledge, skill, mind, character etc especially by formal schooling”.

Mengenai hal di atas, tampak Coser at all dan Webster menekankan pendidikan sebagai suatu proses pengalihan pengetahuan, nilai-nilai, keahlian, sikap, karakter dari seseorang ke orang yang lain secara formal.

Sejalan dengan pengertian di atas,  Poerbakawatja dalam Zuhairmi, dkk (1995:120) menguraikan pengertian pendidikan dalam arti yang luas, bahwa pendidikan adalah perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya serta kerampilan (otang menamakannya juga “mengalihkan” kebudayaan) kepada generasi muda, sebagi usaha menyiapkannya agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmani maupun rohani.

Dari pernyataan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya supaya memiliki kekuatan spiritual keagamaan, emosional, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

       2.   MENDIDIK

Pendidikan merupakan bagian penting dari kehidupan yang sekaligus membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Hewan juga belajar tetapi lebih ditentukan oleh instingnya, sedangkan manusia belajar berarti merupakan rangkaian kegiatan menuju pendewasaan guna menuju kehidupan yang lebih berarti. Anak-anak menerima pendidikan dari orang tuanya dan manakala anak-anak ini sudah dewasa dan berkeluarga mereka akan mendidik anak-anaknya, begitu juga di sekolah dan perguruan tinggi, para siswa dan mahasiswa diajar oleh guru dan dosen.

Lalu apa yang dimaksud dengan mendidik?

Setidaknya ada beberapa pengertian yang bisa kita uraikan. Mendidik atau membimbing adalah suatu pekerjaan yang dipikul oleh guru untuk mengarahkan anak-anak didik dalam  belajar dan dalam  berprilaku yang baik, baik itu dikelas atau di masyarakat.(http://www.keren.web.id/pengertian-mendidik-atau-membimbing-anak.html)

Mendidik dapat menggunakan proses mengajar sebagai sarana untuk mencapai hasil yang maksimal dalam mencapai tujuan pendidikan Mendidik lebih bersifat kegiatan berkerangka jangka menengah atau jangka panjang. Hasil pendidikan tidak dapat dilihat dalam waktu dekat atau secara instan. Pendidikan merupakan kegiatan integratif olah pikir, olah rasa, dan olah karsa yang bersinergi dengan perkembangan tingkat penalaran peserta didik. (http://www.kompasiana.com/perbedaan Mendidik dan Mengajar.html)

Menurut Sugianto, mendidik bukan hanya “Transfer of Knowledge” tetapi juga “Transfer of Value”. Dengan demikian pendidikan dapat menjadi helper bagi umat manusia. (http://www.naqsdna.com/perbedaan-mendidik-dan-mengajargg.html)

Pengertian lain dari mendidik dapt kita uraikan pula secara berbeda, mendidik dapat menggunakan proses mengajar sebagai sarana untuk mencapai hasil yang maksimal dalam mencapai tujuan pendidikan. Mendidik lebih bersifat kegiatan berkerangka jangka menengah atau jangka panjang. Hasil pendidikan tidak dapat dilihat dalam waktu dekat atau secara instan. Pendidikan merupakan kegiatan integratif olah pikir, olah rasa, dan olah karsa yang bersinergi dengan perkembangan tingkat penalaran peserta didik. (http://urangkapuas.blogspot.com/2011/04/perbedaan-mendidik-dan-mengajar.html)

Mendidik menurut Darmodiharjo dalam Sodulloh (2010:7) menunjukkan usaha yang lebih ditujukan kepada pengembangan budi pekerti, hati nurani, semangat, kcintaan, rasa susila, ketakwaan, dan lain-lainnya.

Sejalan dengan itu, Marimba dalam Hasbullah (2009:8) menguraikan arti mendidik sebagai proses bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Lain halnya dengan Hamalik (2011:51), mendidik hanya dibatasi sebagai pemberian bimbingan belajar kepada murid.

Menurut Wijanarko (2005:3) mendidik adalah menyampaikan pengajaran, norma-norma dan nilai-nilai hidup, aturan dan hukum. Pandangan ini diperkuat oleh Waini Rasyidin dalam tulisannya tentang pedagogic kritis, menguraikan pengertian mendidik sebagai kegiatan membimbing pertumbuhan anak, jasmani dan rohaninya dengan sengaja bukan saja untuk kepentingan pengajaran sekarang melainkan utamanya untuk kehidupan seterusnya dimasa depan.(2007:34)

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, mendidik dapat disimpulkan sebagai proses bimbingan dan pengajaran dalam rangka mengalihkan nilai-nilai, bukan sekedar pengetahuan saja. Mendidik merupakansuatu pekerjaan yang dipikul oleh guru untuk mengarahkan anak-anak didik dalam  belajar dan dalam  berprilaku yang baik, baik itu dikelas atau di masyarakat.

3.   PEMBELAJARAN

Sama halnya dengan pendidikan, pembelajaran juga banyak memiliki pengertian dan sangat dipengaruhi paradigma dan ideology tertentu. Pada kesempatan ini akan kita ajukan beberapa pengertian dari pembelajaran. Dalam pandangan kaum behavioristik, pembelajaran adalah usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan (stimulus), aliran kognitif menilai pembelajaran adalah cara guru memberikan kesempatan pada siswa untuk berfikir agar dapat mengenal dan memahami, sedangkan menurut Gestalt, pembelajaran adalah usaha guru untuk memberikan materi pembelajaran sedemikian rupa sehingga siswa lebih mudah mengorganisasikannya (mengaturnya) menjadi suatu pola gestalt (pola bermakna) bahkan kaum humanistik memaknai Pembelajaran adalah memberikan kebebasan kepada siswauntuk memilih bahan pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat dan kemampuannya. (http://muhfida.com/pengertian-pembelajaran-secara-khusus)

Menurut Mashudi dalam Masri,dkk (2007:15) merupakan perubahan kekal dalam kecenderungan tingkah laku dan merupakan hasil amalan yang diperkukuh. Lebih lanjut, dalam pembelajaran harus menguasai 4 kemahiran utama, yaitu mendengar, bertutur, membaca dan menulis.

Degeng dalam Majid (2011:11) mengungkapkan pembelajaran atau pengajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Di sisi lain, Aunurrahman (2010:9) menempatkan pembelajaran sebagai proses transfer informasi atau transfer of knowledge dari guru kepada siswa.

Abdurrakhman (2010:5) mempunyai pandangan berbeda tentang pembelajaran. Pembelajaran baginya hanya kegiatan memotivasi dan memberikan fasilitas kepada siswa agar dapat belajar sendiri. Bahkan secara filosofis, Razali, dkk (2006:152) menguraikan pembelajaran sebagai suatu bentuk desakan bagi “kemandirian” spesies manusia.

Sebagaimana yang dikemukakan winkel, pembelajaran adalah separangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar siswa, dengan memperhitungkan kejadia-kejadian ekstrim yang berperanterhadap rangkaian kejadian-kejadian intern yang berlangsung dialami siswa. (http://www.scribd.com/doc/50015294/13/B-Pengertian-pembelajaran-menurut-beberapa-ahli)

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa   proses pembelajaran dialami setiap orang sepanjang hayat serta dapat berlaku dimanapun dan kapanpun. Pembelajaran merupakan interaksi antara peserta didik denganlingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Dalam pembelajaran tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik. Pada dasarnya Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasiyang berbeda.

     4.   MENGAJAR

Seperti yang telah disebutkan di awal tulisan ini, bahwa pendidikan mempunyai differensial dan tidak berdiri sendiri. Setelah menguraikan pengertian pendidikan, mendidik, pembelajaran, maka mesti pula dijabarkan apa itu mengajar. Terdapat perbedaan mendasar antara mendidik dan mengajar, beberapa orang mungkin terjebak antara definisi mendidik dengan mengajar. Padahal, terdapat perbedaan yang mendasar antara keduanya. Mengajar merupakan kegiatan teknis keseharian seorang guru. Semua persiapan guru untuk mengajar bersifat teknis. Hasilnya juga dapat diukur dengan instrumen perubahan perilaku yang bersifat verbalistis. Tidak seluruh pendidikan adalah pembelajaran, sebaliknya tidak semua pembelajaran adalah pendidikan. Perbedaan antara mendidik dan mengajar sangat tipis, secara sederhana dapat dikatakan mengajar yang baik adalah mendidik. Dengan kata lain mendidik dapat menggunakan proses mengajar sebagai sarana untuk mencapai hasil yang maksimal dalam mencapai tujuan pendidikan.

Mendidik lebih bersifat kegiatan berkerangka jangka menengah atau jangka panjang. Hasil pendidikan tidak dapat dilihat dalam waktu dekat atau secara instan. Pendidikan merupakan kegiatan integratif olah pikir, olah rasa, dan olah karsa yang bersinergi dengan perkembangan tingkat penalaran peserta didik.

Mengajar yang diikuti oleh kegiatan belajar-mengajar secara bersinergi sehingga materi yang disampaikan dapat meningkatkan wawasan keilmuwan, tumbuhnya keterampilan dan menghasilkan perubahan sikap mental/kepribadian, sesuai dengan nilai-nilai absolute dan nilai-nilai nisbi yang berlaku di lingkungan masyarakat dan bangsa bagi anak didik adalah kegiatan mendidik. Mendidik bobotnya adalah pembentukan sikap mental/kepribadian bagi anak didik , sedang mengajar bobotnya adalah penguasaan pengetahuan, keterampilan dan keahlian tertentu yang berlangsung bagi semua manusia pada semua usia.

Hamalik (2011:44) memberikan defenisi pada mengajar dengan batasan bahwa mengajar ialah menyampaikan pengetahuan kepada siswa didik atau murid di sekolah, mewariskan kebudayaan kepada generasi muda melalui lembaga pendidikan sekolah (hal. 47), usaha mengorganisasi lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa (hal. 48), memberikan bimbingan belajar kepada murid (hal. 50), kegiatan mempersiapkan siswa untuk menjadi warga Negara yang baik sesuai dengan tuntutan masyarakat (hal. 50), dan suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari-hari (hal. 52).

Sejalan dengan Hamalik, Nasution dalam Suryosobroto (2009:15) menganggap mengajar merupakan suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak, sehingga terjadi belajar mengajar.

Lain halnya dengan Sanjaya (2009:208), mengajar secara deskriptif diartikan sebagai proses penyampaian informasi atau pengetahuan (transfer of knowledge) dari guru kepada siswa. Sedang menurut Waini Rasyidin dalam tulisannya tentang pedagogic kritis, mengajar yaitu menyajikan bahan ajar tertentu berupa seperangkat pengetahuan, nilai dan/atau deskripsi keterampilan pada seseorang atau sekumpulan orang/anak dengan maksud agar pengetahuan yang diperlukannya sekarang atau untuk pekerjaan yang akan dijalaninya akan bertumbuh sehingga ia mampu mengembangkan atau meningkatkan intelegensinya secara intelektual (2007:34).

Sedangkan menurut Johnson (2007:37), bahwa proses mengajar harus melibatkan siswa dalam pencarian makna dan harus memungkinkan siswa memahami arti pelajaran yang mereka pelajari.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrakhman, M.Si.,Phd.,Prof. 2010. Esensi Praktis Belajar & Pembelajaran. Bandung: Humaniora (cetakan keempat)

Aunurrahman, M.Pd. Dr. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta

 v  Hamalik, Oemar, Prof. Dr. 2011. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara (cetakan kedua belas)

 Hasbullah. 2009. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

 Johnson, Elaine B, Phd. 2007. Contextual Teaching & learning. Bandung: Penerbit MLC (edisi ketiga)

Majid, Abdul. 2011. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: ROSDA (cetakan ketujuh)

 Masri, Sulaiman,dkk. 2007. Bahasa melayu. Selangor: Kim Guan Press Enterprise Sdn Bhd

 Razali, Mahani, dkk. 2006. Psikologi Pendidikan. Kuala lumpur: PTS Profesional Publishing Sdn. Bhd

 Sanjaya, H. Wina, Prof. Dr. 2009. Kurikulum dan pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group (cetakan ketiga)

Sadulloh, Uyoh, Drs.,dkk. 2010. Pedagogic (Ilmu Mendidik). Bandung: Alfebata

 Suryosubroto, B. Drs. 2009. Proses Belajar Mengajar Di Sekolah. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta

 Suryosubroto, B. Drs. 2010. Beberapa Aspek Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta

 Tim Dosen Administrasi Pendidikan UPI. 2009. Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfabeta

 Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan FIP-UPI. 2007.  Ilmu Dan Aplikasi Pendidikan. Bandung: PT. imperial bhakti utama (cetakan kedua)

Wijanarko, Jarot. 2005. Mendidik anak: untuk meningkatkan kecerdasan emosional dan spiritual. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

http://diskusipendidikan.forumotion.com/t4-pengertian-pendidikan-dan-pengajaran.html   (diakses pada tanggal 12 September 2011)

http://muhfida.com/pengertian-pembelajaran-secara-khusus.html  (diakses pada tanggal 12 September 2011)

http://urangkapuas.blogspot.com/2011/04/perbedaan-mendidik-dan-mengajar.html (diakses pada tanggal 12 September 2011)

http://www.keren.web.id/pengertian-mendidik-atau-membimbing-anak.html(diakses pada tanggal 12 September 2011)

http://www.kompasiana.com/perbedaan Mendidik dan Mengajar.html  (diakses pada tanggal 12 September 2011)

http://www.naqsdna.com/perbedaan-mendidik-dan-mengajarg.html  (diakses pada tanggal 12 September 2011)

http://www.scribd.com/ Definisi-Pendidikan-Menurut-Para-Ahli.html (diakses pada tanggal 12 September 2011)

http://www.scribd.com/doc/50015294/13/B-Pengertian-pembelajaran-menurut-beberapa-ahli.html(diakses pada tanggal 12 September 2011)

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 5 pengikut lainnya.

  •  
    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    %d bloggers like this: